Jakarta, TopBusiness – Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,00 persen, Kamis kemarin (16/7/2020). Angka ini merupakan yang terendah sepanjang sejarah.
Selain suku bunga acuan, bank sentral juga menurunkan suku bunga fasilitas simpanan alias deposito facility sebesar 25 bps menjadi 3,25% dan bunga pinjaman atau lending facility 25 bps menjadi 4,75%.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi yang cukup rendah, stabilitas eksternal yang terjaga dan langkah lanjutan pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-10.
Sejak Juli 2019 hingga Juli 2020, BI telah menurunkan suku bunga acuannya sebesar 175 basis poin (bps).
Meski BI sudah menurunkan BI Rate, rata-rata suku bunga kredit di perbankan masih di kisaran dobel digit. Dari data survei perbankan Indonesia kuartal II-2020 yang dirilis BI, rata-rata suku bunga kredit modal kerja diprakirakan menjadi 10,72% dan kredit investasi 10,75%. Kemudian untuk kredit konsumsi diprakirakan menjadi 12,93%.
“Pada jenis kredit konsumsi, penurunan suku bunga terbesar terjadi pada kartu kredit sebesar 20 bps, diikuti oleh kredit kendaraan bermotor dan kredit multiguna masing-masing sebesar 12 bps dan 6 bps,” tulis laporan BI yang dikutip, Jumat (17/7/2020).
Kemudian pada kuartal III-2020 rata-rata biaya yang dikeluarkan oleh bank atas dana nasabah yang ditempatkan atau cost of fund (CoF) dalam rupiah diprakirakan turun 22 bps dari triwulan sebelumnya menjadi 5,38%.
Sementara biaya dana yang dioperasionalkan (ditempatkan) oleh perbankan untuk memperoleh pendapatan atau cost of loanable fund (CoLF) dalam rupiah juga diprakirakan turun 9 bps menjadi 8,20%.
Ini artinya kebijakan moneter suku bunga acuan belum ditransmisikan dengan kecepatan yang sama dengan suku bunga kredit di institusi perbankan Tanah Air.
