Jakarta, TopBusiness – Presiden Direktur PT Geo Dipa Energi (Persero), Riki Firmandha Ibrahim, menyatakan terkait dengan Era New Normal, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) harus berperan aktif dalam membangun perekonomian nasional di tengah pandemi Covid-19, yang mana perekonomian nasional harus terus bergerak, terutama, di ujung-ujung pedesaan terpencil agar kesejahteraan masyarakat tetap terjaga, sehingga diharapkan tak menekan timbulnya gejolak sosial akibat perekonomian berhenti atau stag .
Sehubungan dengan hal tersebut. “Dua BUMN yang mulai terjun langsung ke desa di Banjarnegara dan Wonosobo pada Era New Normal”, tegas Riki, dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi Top Business.id, di Jakarta.
Pandemi Covid-19, serta kebijakan PSBB di beberapa daerah di Indonesia telah membawa tatanan kehidupan baru bagi masyarakat yang kemudian dikenal dengan istilah new normal, dimana kita di tuntut hidup berdampingan dengan situasi itu dan penuh disiplin agar sektor unggulan nasional pada era new normal seperti sektor konstruksi, khususnya, infrastruktur ketenagalistrikan, sektor industri pengolahan, informasi dan komunikasi serta jasa keuangan dan asuransi dapat segera berjalan. “Perhatian Pemerintah Daerah memang harus lebih lagi saat ini”, tegas Riki.
Menurut Riki, DKI Jakarta adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang seluruh sektor unggulannya di bidang jasa relatif bertahan pada masa pandemi Covid-19 dan era new normal namun, saat ini bagaimana dengan kota-kota di Indonesia lain, apabila tidak ada campur tangan seluruh BUMN untuk mulai bergerak.

“Sedangkan untuk provinsi-provinsi lain di Jawa diharapkan segera menggerakan sektor unggulan pada era new normal ini dengan mendorong seperti sektor informasi dan komunikasi. Program Gov. Drilling oleh PT SMI, PT GeoDipa (Persero) dan PT PII di Indonesia bagian Timur tentu akan banyak menggerakan ekonomi pula, apabila Pemerintah Daerah pintar dengan tidak mempersulit masuknya investasi ke daerah”, ujarnya.
Riki menegaskan, pergeseran sektor di bidang jasa relatif bertahan pada masa pandemi Covid-19 dan era new normal namun dengan kota-kota lainnya diharapkan peran BUMN untuk bergerak. Hal ini tidak hanya berimplikasi pada pentingnya digitalisasi ekonomi untuk mempercepat proses recovery perekonomian pada masa new normal, tetapi juga Membangun Negeri Menuju Ekonomi Karbon.
Dalam rangka menjaga alam tetap lestari dan terus memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia serta mahluk lainnya. Tentunya diperlukan kebijakan yang arif pula mengelola kekayaan alam ini. Salah satunya pengelolaan lestari di Wilayah Kerja Pembangkit Listrik Panas Bumi (WKP PLTP) Dieng-Jawa tengah ini.
Dimana Dieng sebagai daerah pertanian dan objek wisata tentunya memberikan dampak yang baik bagi ekonomi masyarakat setempat. Namun hal tersebut dapat menimbulkan permasalahan khususnya timbunan sampah dari pariwisata, pertanian maupun kegiatan masyarakat.
Melihat permasalahan tersebut maka PT Geo Dipa Energi Unit Dieng (GDE Dieng) dan Bank BNI Kantor Cabang Wonosobo (BNI Wonosobo) berinisiasi untuk menghidupkan kembali konsep pengelolaan sampah melalui pemberdayaan masyarakat pada satu Kawasan Dieng yang meliputi 12 desa dari Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara, dan Batang.
Konsep pengelolaan sampah melalui pemberdayaan masyarakat ini diharapkan dapat menjadi solusi permasalahan sampah dalam Kawasan Dieng serta bermanfaat untuk circular economy bagi masyarakat. Program yang akan dilakukan antara lain, pengomposan sampah, daur ulang (reuse &recycle), manajemen bank sampah, pelatihan pendampingan, serta aplikasi online rumah sampah.
Langkah awal yang dilakukan dalam pelaksanaan pengelolaan sampah melalui pemberdayaan masyarakat adalah melalui lokakarya penyusunan regulasi dan sistem pengelolaan sampah di desa dan kawasan wisata.
Lokakarya ini bertempat di Kafe Mampir Ngopi Desa Dieng Kulon Kabupaten Banjarnegara pada tanggal 14 Juli 2020 dan mengundang narasumber dari Timdis dan Green Indonesia Foundation.
Ditegaskan Kepala BNI Wonosobo Yusuf Kurniawan, sangat antusias dalam mengikuti jalannya acara dan menyatakan bahwa lokakarya ini sebagai langkah awal yang baik dalam pengelolaan sampah kawasan Dieng dan berharap agar kesadaran masyarakat mulai timbul terhadap regulasi serta manajemen pengelolaan sampah.
Environment Superintendent GDE Dieng, Syamsumin, dalam sambutannya bahwa lokakarya ini agar menjadi momentum untuk membangkitkan semangat para penggiat sampah yang ada di kawasan Dieng. Pemilik Green Indonesia Foundation – Asrul Hoesein dalam materinya menjelaskan bahwa Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS) dapat menjadi lembaga yang menaungi aktivitas ekonomi dalam pengelolaan sampah serta dapat menghubungkan ke industri yang lebih besar.
Asrul menambahkan bahwa regulasi persampahan di Indonesia sudah cukup banyak namun memerlukan pemahaman dan praktek di lapangan yang lebih baik khususnya UU No. 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah yang belum berjalan baik.
Juga Oman Yanto dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Wonosobo menyambut baik inisiasi acara ini dari BNI Wonosobo dan GDE Diengdan berharap dapat mendukung program pengelolaan sampah pemerintah daerah Kabupaten Wonosobo.
Acara lokakarya ini diikuti oleh 12 kepala desa beserta penggiat KPSM (Kelompok Pengelola Sampah Mandiri Desa), Perum Perhutani area kedu utara dan banyumas timur, Dinas Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup, CDWK7 (Cabang Dinas Kehutanan Wilayah 7) Dinas lingkungan hidup dan kehutanan propinsi jateng serta instansi lainnya yang terlibat. Kolaborasi dinas-dinas terkait sangat dibutuhkan untuk mengawal solusi permasalahan pengelolaan sampah di kawasan wisata Dieng yang menjadi kebanggaan Indonesia.
Sebagai tindak lanjut akan dilakukan kegiatan-kegiatan implementasi pengelolaan sampah secara bertahap mulai bulan Agustus 2020.

Riki menegaskan, dengan terbangunkan management persampahan ini dengan baik, tentunya akan memberikan benefit besar bagi seluruh pemangku kepentingan serta masyarakat luas. Permasalahan Sampah memang menjadi momok besar bagi bangsa ini. “Jika kita bisa mengelolah sampah dengan baik alam akan lestari dengan mengunakan pupuk kompos sampah, serta sampah pun dapat dimanfaatkan menjadi energi listrik, ini diperlukan kerjasama yang baik serta management yang visioner pula agar sampah memberikan manfaat besar pula”, tegas Riki.
