NPF Naik, BFI Finance Batasi Pembiayaan

Penulis Nurdian Akhmad

Jakarta, TopBusiness – Akibat pandemi Covid-19, pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance) sampai semester I 2020 meningkat 3,7%. Angka ini melonjak dibandingkan kondisi normal yang terjaga pada kisaran 1%.

Ke depan, BFI Finance berupaya tetap menjalankan operasional dengan menerapkan manajemen risiko yang terukur dan prudent. Hal tersebut tercermin dari keputusan perseroan untuk memperkuat cadangan kerugian secara masif. Nilai cadangan kerugian ditingkatkan dari 2,0% di akhir 2019 menjadi 6,0% di akhir semester I-2020.

“Seiring peningkatan NPF, kami tetap melakukan manajemen keuangan dan manajemen risiko yang berhati-hati, di mana pencadangan kerugian piutang telah ditingkatkan secara masif untuk mengantisipasi potensi kerugian piutang yang akan timbul di semester II ini,” ujar Finance Director dan Corporate Secretary BFI Finance Sudjono dalam keterangan resmi, Senin (27/7/2020).

Peningkatan NPF yang terjadi pada BFI Finance itu sejalan dengan fenomena di industri multifinance pada umumnya. Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per Mei 2020, NPF industri multifinance bahkan tercatat sebesar 4,1%. BFI Finance mengklaim, pada posisi yang sama, level NPF perusahaan lebih rendah dari itu.

“Pandemi Covid-19 ini memang menjadi tantangan besar bagi kita semua. Namun, kami yakin, kondisi terburuk sudah dilewati oleh perusahaan. Kami berharap di semester II ini akan terdapat perbaikan kinerja keuangan, sejalan dengan langkah-langkah antisipatif yang kami lakukan saat ini dan ke depan,” kata Sudjono.

Sampai semester I-2020, BFI Finance membukukan piutang pembiayaan bersih mencapai Rp 14,90 triliun, turun sebesar 9,5% secara tahunan (year on year/yoy). Pada saat yang sama, peningkatan risiko pembiayaan mendorong perseroan memperkuat cadangan kerugian.

Sudjono mengatakan, pandemi Covid-19 memberikan dampak yang membayangi industri keuangan, baik secara nasional maupun global. Industri multifinance tidak terlepas dari kondisi tersebut. 

Selama kuartal II-2020, sambung dia, perseroan memutuskan untuk melangkah lebih hati-hati dengan membatasi sementara lini pembiayaan. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan dan kesehatan karyawan, konsumen, mitra eksternal, hingga pemangku kepentingan.

“Penutupan itu mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan pada semester I tahun ini, di mana nilai piutang pembiayaan bersih turun 9,5% dibandingkan periode yang sama di 2019 (yoy), dari Rp 16,46 triliun menjadi Rp 14,90 triliun,” tulis Sudjono.

Penurunan kinerja pembiayaan itu berdampak pada pendapatan yang ikut melambat sebesar 2,75% (yoy). Bila pada paruh pertama tahun 2019 perseroan mencatat pendapatan mencapai Rp 2,51 triliun, di semester I-2020 turun menjadi Rp 2,43 triliun.

Sementara itu, dia mengatakan, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) guna menghambat penyebaran Covid-19 di berbagai daerah berdampak terhadap mobilitas konsumen dan aktivitas ekonomi. Kondisi tersebut membawa pengaruh kuat terhadap penurunan kemampuan bayar konsumen. Dalam hal ini, perseroan turut memberikan fasilitas keringanan pembiayaan melalui program restrukturisasi pembiayaan yang diusung OJK.

Sejak April hingga Juni 2020, BFI Finance telah menyetujui restrukturisasi pembiayaan sebesar Rp 4,1 triliun untuk 67.480 kontrak, atau setara 25% dari total nilai piutang pembiayaan perseroan. Di sisi lain, Sudjono menegaskan, saat ini arus kas perseroan tetap terjaga dengan baik dan tidak menyurutkan niat untuk memberikan dividen kas kepada para pemegang saham.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa (RUPSTLB) pada 29 Juni 2020, BFI Finance memutuskan untuk tetap membagikan dividen sebanyak Rp 180 miliar atau sebesar Rp 12 per lembar saham.  Dividen dibagikan kepada para pemegang saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan [er 9 Juli 2020 pukul 16.00 WIB. Sedangkan jadwal pembayaran bakal dilakukan pada 29 Juli 2020. 

BACA JUGA

Tinggalkan komentar