SURABAYA–businessnews.id: Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya kembali meraih prestasi terbaik di Indonesia dalam bidang otomotif. Kali ini, produk Programmable Engine Control Unit (ECU IQUTech-e) berhasil mendapat penghargaan Riset Inovasi Terbaik di Indonesia oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Ristek dan Dikti RI.
Dr Muhammad Nur Yuniarto, ketua tim pembuatan ECU IQUTech-e mengatakan, produk ini merupakan alat untuk mengatur debit injeksi saat pengapian pada mesin motor maupun mobil. “Kelebihan utama yang dimiliki oleh alat ini adalah memiliki performa maksimal sehingga membuat kendaraan jauh lebih irit,” jelasnya dalam keterangannya yang diterima redaksi di Jakarta, Senin (4/5/2015).
Performa maksimal tersebut didapatkan lewat inovasi yang diterapkan oleh tim dari Laboratorium Sistem dan Otomasi Industri Jurusan Teknik Mesin (JTM) ITS ini. Nur menjelaskan, inovasi pada alat ini adalah penanaman algoritma yang sederhana dan tidak rumit. “Selain itu, alat ini juga tidak memerlukan memori yang cukup besar,” ujar dosen Jurusan Teknik Mesin ITS ini.
Dengan kelebihan itulah, lanjut Nur, alat buatan timnya ini berhasil mendapat penghargaan dari Ditjen Dikti. Namun, menurut Nur, parameter penghargaan ini bukan hanya dilihat dari segi teknologi. “Jumlah penjualan kami juga turut menjadi perhatian,” ungkapnya sambil menambahkan hingga kini pihaknya bisa menjual hingga ratusan unit setiap bulan.
Nur mengaku, pembuatan alat ini berawal dari keterlibatan ITS dalam ajang kompetisi internasional Shell Eco Marathon Asia 2010 lalu. Menurutnya, saat itu timnya belum memiliki ECU IQUTech-e sendiri, sehingga harus mengimpor dari negara lain dalam merancang kendaraan yang akan digunakan berlomba.
Seperti diketahui, Shell Eco Marathon adalah kompetisi tahunan di mana peserta membuat kendaraan khusus dengan efisiensi bahan bakar sebesar-besarnya. “Kebetulan ECU IQUTech-e impor yang kami beli tersebut mengalami kerusakan, sehingga kami harus berinovasi sendiri untuk membuat alat yang sama,” ujarnya.
Diakuinya, penghargaan dari Ditjen Dikti ini bukanlah tujuan utama tim mereka. Baginya, alasan utama pembuatan alat ini adalah untuk berkontribusi kepada bangsa Indonesia. “Kami ingin membuktikan produk buatan Indonesia adalah yang terbaik,” tegas pria kelahiran Purworejo ini.
Ke depan, ia berharap timnya bisa kembali berinovasi dalam mengembangkan ECU IQUTech-e ini. Nur menegaskan, dirinya tidak mau berhenti sampai di sini saja. “Tujuan kami kan bukan penghargaan, karena kami ingin terus mengembangkan produk ini hingga mencapai hasil terbaik,” pungkasnya. (endy)