
Jakarta — Jumlah pengguna internet di Tanah Air yang terus meningkat, yang menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun ini diperkirakan sudah mencapai 107 juta orang, lebih besar daripada tahun lalu yang baru 82 juta dan 63 juta pada 2012. Itu turut mendorong pertumbuhan bisnis e-commerce nasional. Pada 2013, lembaga riset eMarketer memerkirakan nilai transaksi e-commerce di negeri berkembang ini sekitar USD 1,8 miliar. Bahkan, Boston Consulting Group memprediksi pada 2015 nanti nilainya menjadi USD 100 miliar.
Terus bertumbuhnya nilai bisnis e-commerce di Indonesia membuat banyak pemain asing mengincar pasar ini. Menurut pengamat e-commerce dari Bloomberg Businessweek Indonesia, Purjono Agus Suhendro, lima tahun terakhir ini saja sudah banyak pemain asing yang mengakuisisi e-commerce lokal. “Pada 2011, contohnya, situs diskon harian DisDus yang belum lama muncul, langsung diakuisisi raksasa internet Groupon asal Amerika Serikat,” kata dia melalui e-mail hari ini. “DealKeren, situs sejenis DisDus, pun dibeli LivingSocial.”
Banyak sekali perusahaan e-commerce berskala global yang telah masuk ke Indonesia melalui proses akuisisi. Yang membentuk perusahaan patungan atau mendirikan perwakilan pun tidak sedikit, seperti Qoo10 asal Korea bekerja sama dengan Yahoo! Dan eBay menggandeng Plasa.com, dan lain sebagainya. “Rakuten dari Jepang yang semula bekerja sama dengan MNC kini berani bermain sendirian,” kata Purjono.
Yang lebih dahsyat lagi, kata Purjono, adalah Rocket Internet Gmbh asal Jerman. Perusahaan yang dimulai dari meniru situs-situs sukses dari Amerika untuk ditawarkan di Eropa, kini membombardir pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, melalui Zalora, Lazada, Lamido, Foodpanda, dan Pricepanda buatannya. Nilai investasi perusahaan itu mencapai ratusan juta USD.
Purjono mengatakan perusahaan-perusahaan di Indonesia harus segera memasuki bisnis ini. Jika tidak, pasarnya akan dipenuhi oleh pemain asing. “Saat ini belum seberapa persaingannya. Dua-tiga tahun lagi saya yakin sudah semakin sengit, apalagi kalau raksasa e-commerce seperti Amazon asal Amerika, Alibaba yang terkenal sebagai raja marketplace dari China, dan lain sebagainya masuk ke sini,” jelas Purjono. “Jadi, segeralah masuk ke bisnis e-commerce sebelum dikuasai asing, apa pun produk yang dipasarkannya.” (DHIT/DHIT)