Jakarta, TopBusiness – Bambang Palgoenadi, Direktur Utama PT. Pinago Utama Tbk (PNGO) mengakui, sebagai perusahaan di sektor kelapa sawit, skala perseroan memang masih kecil dari sisi luasan lahan, dibandingkan dengan perusahaan sejenis yang sudah go-public. Namun begitu, pihaknya optimistis bisa tetap bersaing dengan keunggulan kompetitif yang dimilikinya.
Keunggulan tersebut antara lain, manajemen yang berpengalaman dalam pengelolaan kebun, penggunaan bibit unggulan, bisnis perseroan yang terintegrasi dan ramah lingkungan, lokasi kebun dan pabrik pengolahan yang berdekatan, penerapan tekhnologi mekanisasi untuk efisiensi dan peningkatan produktivitas kerja serta hubungan yang baik dengan stakeholders.
Saat ini, kata dia, dalam bidang industri perkebunan kelapa sawit dan karet, PNGO mengelola 17.656 hektar yang terdiri atas perkebunan kelapa sawit seluas 13.969 hektar dan perkebunan karet seluas 3.960 hektar. Sekitar 81% perkebunan kelapa sawit dan 77% perkebunan karet merupakan area tanaman menghasilkan.
“Dan perseroan membukukan produksi Tandan Buah Segar (TBS) sebesar 158.587 tons dari kebun inti dan kebun plasma atau meningkat sebesar 20% rata-rata tahunan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir,” katanya yakin, di Jakarta, Senin (31/8/2020).
Namun untuk hasil karet kering berupa lateks dan lump adalah sebesar 3.658 tons, menurun sebesar 10% rata-rata tahunan sebagai dampak replanting dan fenomena fussicoccum (penyakit gugur daun) yang melanda hampir seluruh perkebunan karet di Indonesia.
Selain perkebunan kelapa sawit dan karet, perseroan juga mengelola industri pengolahan kelapa sawit dan karet, yaitu pabrik Crude Palm Oil (CPO) dengan kapasitas olah 120 tons TBS per jam, pabrik Crumb Rubber (CRF) dengan kapasitas 6.000 ton per bulan, pabrik Ribbed Smoke Sheet (RSS) dengan kapasitas 600 ton per bulan.
Produksi CPO dan Palm Kernel (PK) mencapai masing-masing sebesar 94.436 tons dan 21.656 tons di tahun 2019 dengan pertumbuhan rata-rata tahunan dalam tiga tahun terakhir sebesar 3% dan 5%. Produksi CRF dan RSS masing-masing sebesar 45.017 tons dan 2.471 tons di tahun 2019, turun 5% dan 11% pada periode 2017-2019.
Dengan komitmen zero waste dan ramah lingkungan, perseroan juga mengelola limbah hasil olahan pabrik kelapa sawit dengan memproduksi pupuk granule bio organic dengan kapasitas produksi 35.000 ton per tahun dan mengoperasikan fasilitas bio-gas untuk menyediakan bahan baku energi pengganti solar.
Seluruh lokasi perkebunan kelapa sawit dan karet serta industri pengolahan terletak di kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Produk olahan karet berupa Crumb Rubber dan Ribbed Smoke Sheet diekspor ke pasar luar negeri sedangkan produk CPO dan PK dipasarkan di dalam negeri.
“Dengan bersertifikasi ISPO dan ISO, Perseroan berkomitmen untuk menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan dan lestari serta terus meningkatkan mutu produk yang dihasilkan” imbuh Palgoenadi.
Untuk itu, perseroan lebih fokus kepada strategi intensifikasi atas area perkebunan yang sudah dimiliki melalui strategi replantingdan pemanfaatkan teknologi mekanisasi untuk menaikkan produktivitas dan efisiensi biaya. Kendati demikian, pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk terus ekspansi apabila terdapat target area yang layak untuk dikembangkan dengan prinsip kehati-hatian.
Dari sisi laporan keuangan, kinerja PNGO memang tak jelek-jelek amat. Tercatat, memerka membukukan pendapatan sebesar Rp1,78 triliun, EBITDA sebesar Rp 194 miliar dan laba bersih senilai Rp 21 miliar di tahun 2019. Total asset perseroan sebesar Rp 1,46 triliun dengan total kewajiban dan ekuitas masing-masing sebesar Rp 1,01 triliun dan Rp 448 miliar per 31 Desember 2019 lalu.
Foto: Ilustrasi (Istimewa)
