JAKARTA-businessnews.id: Kelapa sawit selalu mendapat tekanan berat dari produk minyak nabati lainnya di dunia ini seperti minyak jagung, bunga matahari serta kedelai. Tekanan ini tidak hanya dari segi harga saja, namun juga sangat berpengaruh juga kepada produksinya. Apalagi seiring dengan melemahnya perekonomian global sangat memberikan arti dalam penekanan kepada kelapa sawit.
Medio Maret 2015 ini produksi kedelai meningkat 47,4 juta MT, jika dibandingkan denga produksi bulan Januari hanya 47,1 juta MT. Kenaikan produksi ini pun memicu pula meningknya stok persedian di pasar global sebesar 3,6 juta MT, hal ini juga memicu kepada tekanan anjloknya harga minyak kelapa sawit.
Produksi kelapa sawit mencatat tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 59,5 juta Metrik Ton (MT), sementara itu konsumsinya sebesar 57,3 juta MT pada tahun 2014. Indonesia dan Malaysia sebagai produsen utama di pasar global. Kedua Negara ini secara kolektifg menyumbang rata-rata sekitar 85,2% dari produksi kelapa sawit dunia dalam kurun waktu 2010-2014.
Konsumsi global minyak sawit masih bertenger diangka 60,8 juta MT pada February dan menurun 60,7 juta MT pada medio Januari. ICRA Indonesia memperkirakan harga minyak sawit akan tetap bertenger di harga USD 650-700 per MT di tahun 2015 ini. Pengaruh lainnya menurut penelitian ICRA Indonesia yaitu perubahan cuaca EL NINO juga memberikan kontribusi besar pula.
“Dalam rangka menyelamatkan industry kelapa sawit dari hulu-hilir pemerintah RI telah membuat kebijakan dalam program B 15 biofuel sebagai subsitusi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan juga melanjutkan kebijakan bebas bea ekspor dan menurunkan harga patokan eksport”, terang Setyo Wijayanto, Manager Analyst Corporate Ratings ICRA Indonesia. (Albarsah)