JAKARTA-businessnews.id: Tahun 2015, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meningkatkan anggaran kajian stok sumber daya ikan menjadi Rp 44,4 milyar. Anggaran tersebut meningkat lebih dari 1000% dibanding tahun 2003. Dengan dukungan dana tersebut diluncurkan ‘Progran Kajian Stok Nasional 2015’ , yang diresmikan Menteri Kelautan dan Perikanan pada tanggal 21 Mei 2015.
Program ini akan meningkatkan akurasi potensi dan tingkat pemanfaatan sumber daya ikan secara revolusioner di Indonesia. Konsekwensi logisnya, KebijakanPengelolaan Sumber daya perikanan akan dapat disusun secara akurat, yang selanjutnya akan dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan.
Program Kajian Stok Nasional 2015 akan meliputi 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) seluruh Indonesia secara serentak dan melibatkan beberapa kapal penelitian yaitu Kapal Riset Bawal Putih 3, Kapal Latih dan Riset Madidihang 2, Kapal Riset Baruna Jaya 7, Kapal Riset Baruna Jaya dan Marine Vessel SEAFDEC.
Kapal Riset Bawal Putih 3 merupakan Kapal Riset KKP sebagai perwujudan upaya pengembangan dan penguatan sumber daya penelitian oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP). Kapal ini di luncurkan pada 203 oleh Menteri Kelautan Perikanan Sharif C Sutardjo.
Kapal Penelitian ini mempunyai panjang 42 meter, lebar 8,7 meter, tinggi geladak 4 meter, dengan bobot 395 Gross Tone (GT), dengan kapasitas peneliti 15 orang. Kapal Bawal Putih 3 dirancang secara modern dan mampu berlayar terus – menerus selama 14 hari serta dapat melaju dengan kecepatan maksimum 16 knot.
Kapal penelitian ini Dilengkapi 2 unit mesin induk Cummin KTA 50 – M2 1600 HP, Generator listrik 2x 170 KVA, generator pembuat air tawar kapasitas 7 m3/hari, serta peralatan navigasi radar Automatic Radar Lotting Aid (ARPA) dan Automatic Identification System (AIS), serta Differential Positioning Class-1 (DP-1) yang dapat mempertahankan posisi kapal ketika aktivitas penelitian di laut memerlukan posisi geografis yang tepat.
Kapal ini dilengkapi juga peralatan penelitian untuk pengkajian stok sumberdaya ikan, oseanografi kelautan, geologi dan geofisika laut, observasi, inspeksi dan eksplorasi bawah laut. Selain itu KR.Bawal Putih III juga dilengkapi dengan peralatan laboratorium seperti Ultra Low Temperature Freezer (untuk penyimpanan sampel suhu rendah sampai -890 C), Vertical Laminar Flow Cabinet
Madidihang 2 adalah kapal latih dan riset yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Perikanan, sebagai wahana aktualisasi ilmu bagi para taruna STP dengan panjang 30,8 meter, lebar 6,3 meter dan tinggi geladak 3 meter dan bobot 163 Gross Ton (GT), serta kapasitas 15 orang kru dan 15 taruna STP. Kapal latih ini dilengkapi juga dengan Automatic Identification System serta 2 trawl untuk kepentingan pengambilan sampel penelitian.
Dengan potensi yang begitu besar, sektor kelautan dan perikanan bisa menjadi odyssey to prosperity atau jalan bagi seluruh masyarakat Indonesia menuju kemakmuran. Hal ini bukan suatu yang mustahil, sebab sektor perikanan merupakan salah satu sektor utama yang akan menghantarkan Indonesia sebagai negara yang maju perekonomiannya pada tahun 2030. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan pengelolaan sumber daya ikan yang lestari dan berkelanjutan
Kajian stok sumber daya ikan menempati peringkat utama dalam langkah-langkah pengelolaan sumberdaya perikanan, karena dengan adanya kajian stok, kita akan dapat merumuskan kebijakan pengelolaan sumber daya perkanan secara akurat dan cermat untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan nelayan di Indonesia.
Potensi ikan laut dan Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan (JTB) beberapa kelompok species ikan seperti, Pelagis besar, Pelagis kecil, Demersal, Udang, Cumi, Ikan hias, Moluska dan Tripang, Benih alam komersial, Ikan konsumsi perairan karang pertama kali ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 995/Kpts/IK 210/9/99. (endy)