Jakarta, TopBusiness – Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini. Ekonomi Indonesia tahun ini diproyeksi melambat di kisaran minus 1,6 persen hingga minus 2 persen.
Angka proyeksi pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi Bank Dunia pada Juli 2020 yang memperkirakan ekonomi Indonesia masih bisa bertahan di nol persen.
Chief Economist for East Asia and Pacific Bank Dunia Aaditya Mattoo menyatakan, Indonesia merupakan salah satu negara di kawasan Asia Pasifik selain Filipina yang menurutnya belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi dalam waktu dekat. Pasalnya, hingga saat ini Indonesia dinilai belum sukses dalam menangani pandemi.
“Indonesia masih belum menerapkan isolasi secara ketat, dan nampaknya lebih mengandalkan kebijakan-kebijakan yang lebih ringan,” ujar Mattoo ketika memberikan keterangan dalam konferensi video, Selasa (29/9/2020).
Untuk diketahui, proyeksi pertumbuhan Bank Dunia tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi pada Juli 2020 yang memperkirakan ekonomi Indonesia masih bisa bertahan di nol persen Mattoo pun mengatakan, proses pemulihan perekonomian di Indonesia akan berlangsung lebih lambat jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Pasifik.
Pasalnya, perekonomian domestik di negara-negara kawasan tersebut mulai berjalan. Meski demikian, permintaan global masih akan tertekan lantaran kawasan Asia Pasifik sangat bergantung pada aktivitas perekonomian dunia. Bank Dunia memproyeksi, ekonomi China bakal tumbuh di kisaran 2 persen tahun 2020 ini.
“Didorong oleh belanja pemerintah, ekspor yang kuat, dan kasus infeksi Covid-19 yang cenderung rendah sejak Maret, namun masih tertekan oleh kinerja konsumsi domestik yang melamban,” jelas Mattoo.
Di sisi lain, untuk negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik, kinerja perekonomian diproyeksi bakal tumbuh 3,5 persen. Adapun Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya sempat mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun akan berada di kisaran minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen. Sebelumnya, proyeksi Sri Mulyani berada di kisaran minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen.
