Jakarta, TopBusiness—Ekonomi dan keuangan syariah memiliki potensi besar untuk diintegrasikan dengan digitalisasi. Hal itu sejalan perkembangan ekonomi dan keuangan syariah yang makin luas, meliputi antara lain rantai nilai halal, media, pariwisata, farmasi dan kosmetik, serta pembiayaan komersial dan sosial.
“Selain itu, pandemi Covid-19 telah membawa perubahan ke arah nirkontak dalam melakukan berbagai aktivitas. Dengan digitalisasi, ekonomi dan keuangan syariah diharapkan dapat menjadi arus baru yang mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia, Sugeng.
Berbicara pada saat pembukaan Forum Internasional SESRIC “The Islamic Economic Digitalization and Inclusion: Policy Development and Implementation in the OIC Countries”, yang digelar virtual kemarin, Sugeng pun menjelaskan sejumlah hal.
Antara lain bahwa Bank Indonesia memiliki inisiatif untuk mendorong inklusi ekonomi dan keuangan syariah melalui digitalisasi.
Yaitu dengan meluncurkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan memfasilitasi interlink antara bank dan perusahaan teknologi finansial syariah melalui standarisasi API (Application Programming Interface).
“Dua inisiatif tersebut merupakan bagian dari Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025 yang bertujuan untuk mendorong transformasi digital dalam perekonomian dan keuangan Indonesia, termasuk inklusi ekonomi dan keuangan syariah,” papar Sugeng.
Sumber Foto: Istimewa
