Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan atau IHSG hingga sesi penutupan perdagangan Kamis (19/11/2020) di Bursa Efek Indonesia diproyeksikan mengalami pelemahan.
Dalam riset harian Samuel Sekuritas Indonesia via samuel.co.id, di Jakarta, memperlihatkan bahwa pasar saham Amerika ditutup melakukan profit taking seiring kekhawatiran atas penambahan kasus harian yang rata-rata sekitar 157.000 per hari. Sementara itu, pasar masih wait and see terhadap vaksin Pfizer dan BioNTech yang menunjukkan progress positif. DJIA minus 1,16% ke level 29.438, S&P500 1,16% dan Nasdaq 0,82%.
Indeks EIDO minus 0,69% dan IHSG Rabu ditutup plus 0,5% menjadi 5.557,5 dengan pendorong saham BBRI, BMRI, MAYA. Net buy asing pada pasar regular mencapai Rp 475 miliar. Saham dengan nilai net buy asing tertinggi di pasar reguler dicetak oleh BBCA (Rp 307,3 miliar), BBRI (Rp 193,8 miliar), dan MDKA (Rp 75,2 miliar) sementara net sell asing dicetak oleh HMSP (Rp 85,3 miliar), INKP (Rp 78,9 miliar), dan BBNI (Rp 47,8 miliar). Sepanjang minggu ini (Senin-Rabu), IHSG menguat 1,75% disertai net buy asing Rp 708 miliar pada pasar regular.
Kasus baru Covid-19 Rabu diumumkan naik menjadi 4.265 kasus (Selasa: 3.807) dengan tingkat kesembuhan lebih tinggi yaitu 3.711 (Selasa: 3.193) dan kematian 110 kasus (Selasa: 97). Total kasus Covid-19 Indonesia telah mencapai 478.720 kasus dengan rasio kasus ditutup sebesar 87,28% per 18 Nov 2020 (17 Nov 2020: 87,26%).
“Hari ini data domestik yang akan dirilis adalah 7DRRR dengan perkiraan consensus stabil pada level 4%. Selain itu, Initial jobless claims AS per Nov-20 menurut consensus akan sedikit turun menjadi 700.000 (prev: 709.000). Kami memperkirakan IHSG hari ini berpotensi bergerak melemah dengan antisipasi profit taking serta minimnya sentimen domestik yang dapat mengangkat market,” demikian tertulis.
Foto: Rendy MR
