Jakarta, TopBusiness – Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Semuel Abrijani Pangerapan mengakui temuan survei terkait literasi digital ini menjadi masukan yang sangat baik bagi Kemenkominfo. Apalagi hal ini bisa menjadi acuan dalam penyusunan program peningkatan literasi digital.
“Ini pertama kalinya kami mengukur tingkat literasi digital secara nasional, dan kita harapkan pada masa mendatang kita bisa terus memantau perkembangannya,” kata dia dalam keterangan yang diterima media, ditulis Senin (23/11/2020).
Pernyataan ini menanggapi temuan survei Katadata Insight Center (KIC) yang bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta SiBerkreasi yang menyakan setidaknya sebanyak 30% sampai hampir 60% orang Indonesia terpapar berita palsu (hoaks) saat mengakses dan berkomunikasi melalui dunia maya.
Sementara itu, disebut survey itu, hanya 21% sampai 36% saja yang mampu mengenali hoaks. Dan kebanyakan hoaks yang ditemukan tersebut terkait isu politik, kesehatan dan agama.
Semuel menegaskan, perluasan jangkauan internet ini telah meningkatkan juga jumlah pengguna internet di seluruh Indonesia.
“Ini membuka berbagai kesempatan positif bagi rakyat Indonesia, namun sangat penting diiringi dengan peningkatan literasi digital. Kita ingin teknologi internet memberi dampak sebaik mungkin, sedangkan dampak buruknya kita kurangi sebanyak mungkin,” jelas Semuel.
Sementara Wakil Ketua Umum Siberkreasi bidang Riset dan Pengembangan Kurikulum, Anita Wahid mengatakan survei ini mengingatkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi digital. “Kemampuan literasi yang baik, kita harapkan bisa melindungi masyarakat dari hoaks, kejahatan siber dan sebagainya,” tambah Anita.
Direktur Riset Katadata Insight Center, Mulya Amri menegaskan selain kemampuan mengenali hoaks masih rendah, tingkat literasi digital orang Indonesia juga masih belum cukup tinggi. Dalam survei yang mengukur status literasi digital di 34 provinsi Indonesia ditemukan, indeks literasi digital secara nasional belum sampai level “baik”.
“Jika skor tertinggi adalah 5 dan terendah adalah 1, maka indeks literasi digital nasional baru 3,47 Ini baru sedikit di atas level menengah,” jelas Mulya.
Sementara jika dilihat lebih jauh, sub-indeks Informasi & Literasi Data memiliki skor paling rendah. Pada sub-indeks ini, pihaknya mengukur kemampuan mengolah informasi dan literasi data, serta berpikir kritis. Responden ditanyakan tentang kemampuan menyaring informasi, juga apakah ia membandingkan berbagai informasi di dunia maya sebelum memutuskan sebuah informasi benar atau tidak.
Status literasi digital nasional diukur melalui survei tatap muka terhadap 1670 responden di 34 propinsi. Kerangka survei mengacu pada “A Global Framework of Reference on Digital Literacy Skills” (UNESCO, 2018). “Responden diminta untuk mengisi 28 pertanyaan self-assessment yang disusun menjadi 7 pilar, 4 sub-indeks,” ujar Mulya.
Mengenai kebiasaan saat di dunia maya, survei ini juga menemukan pengguna internet di Indonesia cenderung belum waspada akan pentingnya kerahasiaan data pribadi, serta masih melakukan sejumlah kebiasaan berisiko. Responden misalnya menaruh informasi pribadi seperti tanggal lahir (67,4%), nomer telepon (53,7%), dan informasi lokasi terkini (67,6%) di media sosialnya.
Yang tidak kalah menarik, survei menemukan indeks literasi digital di Indonesia wilayah tengah dan timur cenderung lebih baik daripada di Indonesia wilayah barat, yang meliputi Pulau Jawa dan Sumatera. Skor indeks literasi digital cenderung berkorelasi positif dengan kemampuan mengenali hoaks, usia yang lebih muda, pendidikan yang lebih tinggi, jenis kelamin laki-laki, tinggal di luar pulau Jawa, dan penggunaan internetnya tidak terlalu intensif.
Foto: Rendy MR (TopBusiness)
