Jakarta, TopBusiness – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) melalui analisnya, Gifar Indra Sakti dan Yogie Surya Perdana menyatakan telah menurunkan peringkat PT Waskita Toll Road (WSTR) dan rencana penerbitan convertible bond senilai Rp2,5 triliun menjadi “idBBB-” dari “idBBB”.
Penurunan peringkat terhadap WSTR tersebut, lantaran dipengaruhi oleh revisi yang dilakukan Pefindo atas peringkat induk perusahaannya, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) menjadi “idBBB” dari sebelumnya “idBBB+”.
Disebutkan mereka, berdasarkan metodologi dukungan induk, setiap perubahan peringkat dan/atau outlook perusahaan induk akan langsung mempengaruhi peringkat dan/atau outlook anak usaha inti. “Prospek atas peringkat perusahaan direvisi menjadi ‘stabil’ dari ‘negatif’ dengan harapan dampak positif dari hasil restrukturisasi utang WSKT,” tuturnya dalam hasil risetnya, ditulis Selasa (1/12/2020).
Obligor dengan peringkat idBBB memiliki kemampuan yang memadai dibandingkan obligor Indonesia lainnya untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya. Walaupun demikian, kemampuan obligor lebih mungkin akan terpengaruh oleh perubahan buruk keadaan dan kondisi ekonomi.
“Tanda kurang atau (-) menunjukkan bahwa peringkat yang diberikan relatif lemah dan di bawah rata-rata kategori yang bersangkutan,” katanya.
Peringkat ini mencerminkan posisi Waskita Toll Road sebagai anak usaha inti dari induknya, proyek-proyek jalan tol yang prospektif, dan valuasi yang lebih baik melalui konektivitas. Dan peringkat ini dibatasi oleh struktur permodalan yang agresif dalam jangka pendek dan menengah, ketergantungan yang tinggi terhadap divestasi aset untuk mendukung pengembangan bisnis, dan risiko bisnis terkait dengan pengembangan jalan tol baru.
Peringkat dapat diturunkan jika peringkat perusahaan induk diturunkan. Peringkat juga dapat diturunkan jika Waskita Toll Road gagal mendivestasikan asetnya sesuai rencana, diikuti oleh penarikan utang yang lebih tinggi dari yang direncanakan, yang dapat melemahkan struktur permodalan dan proteksi arus kas.
“Dan bahkan peringkat juga dapat berada di bawah tekanan jika perusahaan tidak dapat menyelesaikan pembangunan jalan tol di anak usaha dengan kepemilikan mayoritas, yang dapat menunda arus kas masuk dari pendapatan jalan tol, atau bila ada penurunan dukungan Induk,” terangnya.
Namun begitu, outlook juga dapat direvisi menjadi stabil jika Waskita Karya memperbaiki leverage keuangan dan rasio cakupan bunga secara berkelanjutan. Hal ini karena didukung oleh kontrak backlog yang kuat yang memberikan visibilitas pendapatan selama beberapa tahun ke depan.
“Meski begitu, perbaikan tersebut juga harus diikuti oleh kemampuan WSTR untuk melaksanakan rencana divestasinya sesuai rencana untuk menjaga kesehatan arus kas, memperbaiki struktur permodalannya secara signifikan, dan meningkatkan profitabilitasnya secara berkelanjutan,” jelasnya.
Bergerak dalam industri jalan tol, WSTR memegang konsesi atas 16 jalan per 30 Juni 2020. Perusahaan juga sedang dalam proses menambah ruas jalan tol Penajam-Balikpapan ke dalam portofolionya.
Total 10 ruas jalan tol sudah beroperasi, tetapi hanya tiga ruas jalan tol (Pemalang-Batang, Bekasi-Cawang-Kampung Melayu, dan Bogor-Ciawi-Sukabumi) yang dikonsolidasikan ke dalam pendapatan WSTR sepanjang tiga bulan pertama tahun 2020. Per 30 Juni 2020 2020, pemegang saham Perusahaan adalah WSKT (80,56%), PT Taspen (Persero) (8,29%), dan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (11,14%).
Foto: Tol Becakayu (Istimewa)
