Jakarta, TopBusiness – Amartha yang merupakan layanan fintech peer to peer lending terus secara konsisten hadir untuk mendampingi pelaku-pelaku UMKM di seluruh Indonesia untuk memulai usaha, mengembangkan usaha di masa pandemi saat ini. Pendampingan terseubt diharapkan membantu mereka rebound dan survive.
Bahkan diharapkan para pelaku UMKM bisa bangkit jauh lebih baik lagi usaha-usahanya kedepan, lebih sustainable dan Indonesia bisa melewati masa-masa sulit seperti pandemi covid-19. Selain itu, Andi melihat secara piramida UMKM itu porsinya sangat signifikan di Indonesia.
“Ekonomi Indonesia juga ditopang sama ekonomi informal, yang pelakunya puluhan juta dan industri fintech Amartha dan industri fintech juga kita berupaya berperan aktif untuk surfing mereka yang terbatas mendapatkan akses keuangan di masa-masa pandemi seperti saat ini,” kata CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra dalam sebuah acara webinar, Selasa (15/12/2020).
Sejak 2010 hingga sekarang, Amartha sudah menyalurkan pendanaan untuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebesar Rp 2,9 triliun. Visi Amartha itu mewujudkan kesejahteraan merata di Indonesia terutama untuk masyarakat piramida bawah melalui layanan fintech pendanaan. Layanan ini menghubungkan mereka yang membutuhkan modal di pedesaan pengusaha-pengusaha mikro dengan pendanaan di perkotaan.
“Sekarang umur Amarta sudah 10 tahun, hingga kini kami sudah menyalurkan lebih dari Rp 2,9 triliun memberikan pendampingan, pengembangan usaha untuk lebih dari 550 ribu pelaku usaha mikro di seluruh Indonesia,” kata Andi.
Dengan semangat agility, kreativitas, dan inovasi Amartha mencoba tetap beradaptasi, dan berinovasi dengan tetap melayani sektor ekonomi informal dengan pendekatan yang berbeda dengan credit scoring yang harus kita yang harus di update continuity plan-nya.
Demikian Andi menegaskan, peran Amarta dan fintech pendanaan dalam memberdayakan UMKM tidak dapat berjalan sendiri dan ini butuh dukungan dari seluruh stakeholders.
