Jakarta, TopBusiness –Direktur Utama PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Salyadi Saputra menegaskan, sepanjang tahun 2020 ini atau tepatnya sampai 30 November 2020, nilai penerbitan surat utang atau obligasi korporasi dari BUMN Group hanya mencapai Rp40 triliun.
Angka tersebut berarti mengalami penurunan lebih dari 50 persen dari penerbitan di periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp84,1 triliun.
“Saat pandemic ini, ternyata penerbitan obligasi korporasi dari BUMN Group tak sebanyak di tahun lalu. Kondisi ini turut menurunkan porsi terhadap outstanding surat utang korporasi nasional,” tegas Salyadi dalam acara Media Forum Pefindo yang digelar secara virtual, di Jakarta, Kamis (17/12/2020).
Semula, penerbitan obligasi BUMN group selalu lebih banyak dari yang dilakukan perusahaan swasta. Namun untuk tahun ini, tidak demikian. Tercatat, hingga 30 November 2020 itu, penerbitan surat utang korporasi BUMN sebanyak Rp40,0 triliun, sementara dari pihak swasta mencapai Rp44,4 triliun. Padahal di tahun lalu, surat utang BUMN Group masih dominan dengan penerbitan mencapai Rp90,7 triliun adapun untuk obligasi korporasi swasta di angka Rp55,8 triliun.
Sementara, jika dibandingkan porsi surat utang korporasi BUMN terhadap total outstanding surat utang korporasi di tahun ini juga masih mengecil tipis. Tercatat, di 2020 ini totalnya mencapai Rp293,9 triliun atau sebanyak 57,6% terhadap total outstanding surat utang korporasi. Sedang pada 2019 lalu porsi surat utang BUMN sebanyak Rp314,8 triliun atau setara dengan 57,9% terhadap porsi outstanding surat utang korporasi.

“Jika dilihat dari peringkatnya, porsi penerbitan masih didominasi oleh peringkat AAA (triple-A) dan A (single-A). Dengan porsi masing-masingnya secara berturut-turut di angka 50,3% dan 28,7% dari total nilai penerbitan hingga 30 November 2020,” ujar Salyadi.
Jika ditilik dari tenornya, ternyata obligasi tahun ini dari untuk tenor jangka pendek-menengah masih mendominasi penerbitan surat utang korporasi, yaitu di tenor 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun. Tercatat, sampai dengan 30 November 2020, tenor 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun hampir mencakup 83% dari total nilai penerbitan surat utang korporasi.
Selanjutnya, kata dia, berdasarkan nilai, penerbitan surat utang korporasi hingga 30 November 2020 itu masih didominasi oleh sektor perusahaan multifinance dan Lembaga Keuangan Khusus. Tercatat, untuk multifinance mencapai Rp14,01 triliun, lembaga keuangan khusus Rp8,95 triliun, lembaga pembiayaan khusus sebanyak Rp8,14 triliun, perbankan sebanyak Rp7,88 triliun, dan pertambangan di angka Rp6,08 triliun.
“Adapun ungtuk jumlah penerbit obligasi korporasi sendiri masih meningkat menjadi 59 perusahaan hingga 30 November 2020 itu. Dari 54 perusahaan di periode yang sama di 2019. Untuk sektornya masih didominasi perbankan dan multifinance,” pungkas dia.
Foto: Istimewa
