Jakarta, TopBusiness – Direktur Keuangan PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN), Giat Widjaja mengatakan, sejalan dengan penambahan dan optimalisasi kapasitas, kinerja keuangan perusahaan memperlihatkan tren pertumbuhan positif. Aset perusahaan yang pada tahun 2019 sekitar USD 260,8 juta, diperkirakan tumbuh menjadi USD 279,6 juta pada akhir 2020 dan menjadi USD 306,4 juta pada akhir 2021.
Sementara itu, pendapatan perusahaan antara tahun 2019 dan 2020 diperkirakan berkisar USD 23,7 juta, dan selanjutnya ditargetkan naik menjadi USD 47,4 juta pada 2021.
“Sedangkan laba bersih diprediksi meningkat dari USD 3,6 juta pada 2019 menjadi USD 4,7 juta tahun 2020 ini. Selanjutnya laba bersih 2021 ditargetkan menjadi USD 11,1 juta,” ujar Giat Widjaja, di Jakarta, ditulis Selasa (29/12/2020).
Seiring dengan perkembangan kinerja menggembirakan tersebut, deisebutkan Wakil Presiden Direktur PT Kencana Energi Lestari Tbk, Wilson Maknawi, pihaknya akan terus mendorong pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia. Alasannya, Indonesia merupakan negara dengan potensi EBT yang melimpah.
Dengan demikian, kata dia, tidak perlu khawatir pasokan EBT berkurang bila pembangkit fosil dinonaktifkan satu saat nanti. “Kalau di luar negeri pada 2050 (pembangkit fosil nonaktif). Kita bisa tahun 2040-2050 kalau kita serius mengembangkan potensi energi hijau yang kita miliki,” ujar Wilson.
Menurut Wilson, jika pasokan energi terbarukan memadai, pemerintah bisa mengalihkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk subsidi bunga kredit proyek EBT, seperti proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm), Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg), Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), dan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTMH).
Dengan potensi yang ada, Wilson memproyeksikan Indonesia bisa sepenuhnya menggunakan pembangkit ramah lingkungan dalam 20 tahun ke depan. Perhitungannya, 10 tahun pertama agar pembangkit berbasis fosil yang baru beroperasi bisa kembali modal. Sedangkan lima tahun sisanya merupakan masa transisi untuk mengurangi pemakaian pembangkit fosil.
FOTO: Istimewa
