
Jakarta — Petani plasma kelapa sawit di Indonesia menemui sejumlah hambatan untuk mendapatkan sertifikasi ramah lingkungan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil). Antara lain, mereka tidak punya dana memadai untuk menempuh sertifikasi itu. “Di samping itu, mereka terhambat oleh kelengkapan data yang masih belum terlalu bagus,” kata Direktur PT Mutu Agung Lestari, Tony Arifiarachman, di Kementerian Pertanian, Jakarta, hari ini.
Kata Tony, petani tersebut juga kadang kurang mengetahui penggunaan lahan yang tepat. Kadang, lahan hutan pun digunakan mereka. “Dana untuk pengolahan limbah B3, mereka juga sering tidak bisa menyediakan,” kata dia.
Mengatasi hal itu, sejumlah hal perlu dilakukan sehingga petani tersebut diberdayakan untuk mendapat sertifikasi ISPO. Perlu ada penanganan yang baik dan bersifat menyeluruh. “Antar-dinas pemerintahan terkait, perlu ada harmonisasi,” kata dia.
Sementara itu, Sustainability Division Head PT Sinar Mas Agro Resources and Technology, Haskarlianus Pasang, mengatakan bahwa semua produsen kelapa sawit nasional seyogianya mendukung sertifikasi ISPO. “Kalaupun ada yang ingin sertifikasi lain, ya sebaiknya dibangun melalui platform ISPO.”
Di internasional, ISPO yang rancangan Indonesia pun memunyai sebuah daya tarik. “Jadi, kita perlu mengangkat pamor ISPO di dunia,” kata Haskarlianus. (DHI/AL/DHI)