Konflik AS-Tiongkok Bakal Lama, Ini Saran Profesor Singapura

Penulis Nurdian Akhmad

Jakarta, TopBusiness – Profesor dan guru besar terkemuka dari National University of Singapore, Kishore Mahbubani mengingatkan, perseteruan geopolitik antara AS dan Tiongkok masih akan berlangsung selama 10 tahun ke depan. Persaingan ini selalu terjadi ketika AS yang saat ini masih menjadi kekuatan terbesar dunia sedang dalam proses “disalip” oleh kekuatan terbesar kedua, yaitu Tiongkok.

Mahbubani menyatakan Amerika Serikat sedang dalam kondisi sosial-politik yang prihatin. Ini ditandai dengan penyerbuan Gedung Capitol oleh pendukung Presiden Donald Trump awal Januari ini.

Beberapa ahli berpendapat bahwa AS telah menjadi sebuah plutokrasi, di mana kekuasaan dipegang oleh segelintir orang yang sangat kaya. Sementara puluhan juta masyarakat mengalami kemerosotan ekonomi yang riil selama 30 tahun terakhir.

Menurut Mahbubani, saat ini AS tergantung dari presiden terpilih Joe Biden untuk memulihkan kondisi dan memperbaiki hubungan antar masyarakat yang retak. Ke depannya, bisa jadi AS akan pulih dan kembali menguat, atau semakin terpuruk. Di sisi lain, Tiongkok telah menunjukkan bahwa negara itu dapat menangani kondisi darurat, seperti wabah Covid -19, dengan efektif.

Kualitas birokrasi di Tiongkok juga termasuk yang terbaik di dunia dengan rekruitmen yang terukur. Di Tiongkok hanya yang menempati ranking terbaik di sekolahnya dapat lolos kualifikasi menjadi pegawai negeri.

Mahbubani memberikan saran agar Indonesia dan negara-negara lain di dunia untuk tetap netral. Indonesia juga harus terus mendorong kerja sama dalam wadah ASEAN untuk memperkuat kerja sama ekonomi, baik dengan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. ASEAN dengan 10 negara anggotanya dan 650 juta penduduk memiliki posisi yang strategis dalam menentukan arah ekonomi dunia ke depan.

“Pesan yang harus disampaikan secara jelas adalah jangan paksa kami untuk memihak pada AS atau Tiongkok. Tapi kami ingin menjaga hubungan baik dengan keduanya,” ujar Mahbuani dalam acara diskusi virtual yang dikutip, Rabu (12/1/2021).

Menurutnya, pesan ini akan lebih kuat bila disampaikan secara kolektif dalam wadah ASEAN, karena ASEAN mewadahi 10 negara dengan 650 juta penduduk.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar