Jakarta, TopBusiness—Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mengalami kontraksi sebesar 2,1% y/y pada tahun 2020, meninggalkan tahun 2020 yang penuh tantangan akibat pandemi, dengan kurva kasus positif yang belum melandai.
Perkembangan ekonomi 2020 juga menandai kontraksi pertama sejak krisis keuangan Asia di akhir tahun 90-an. Vaksin akan menjadi andalan tahun ini untuk memungkinkan dimulainya normalisasi.
Hal tersebut dipaparkan ekonom Bank DBS, Radhika Rao, dalam keterangan tertulis yang diterima kemarin malam oleh redaksi Majalah TopBusiness.
“Sementara indikator ekonomi domestik mengarah ke awal yang masih dihantui ketidakpastian di tahun 2021, keseimbangan ekspor neto yang lebih kuat ditopang oleh harga komoditas, dan keputusan pemerintah untuk meningkatkan paket stimulus yang didukung oleh belanja anggaran yang lebih cepat, kemungkinan besar akan menjadi faktor penyeimbang utama,” kata Radhika.
Dia memberikan catatan yang menggembirakan: arus modal kembali masuk di tengah buffers eksternal yang membaik, dan harapan tinggi akan reformasi struktural yang diumumkan pada puncak pandemi.
Untuk tahun 2021, Radhika mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi di 4%. Kebijakan moneter dan fiskal kemungkinan akan tetap kolaboratif seperti 2020, dengan Bank Indonesia (BI) memperpanjang bias dovish-nya (menjaga kesempatan untuk menurunkan suku bunga jika dibutuhkan nanti), kondisi pembiayaan yang kondusif, pertumbuhan kredit turun dan program pinjaman berjalan lancar .
Ekonom Bank DBS, Philip Wee memperkirakan USD/IDR akan bertahan di kisaran 14.000-14.500 pada 2021-2022. Perkiraan ini sejalan dengan tren resesi global sebelumnya.
Pertama, USD/IDR turun tajam setelah Fed Amerika Serikat (AS) memberikan stimulus untuk menstabilkan pasar keuangan global.
Kedua, USD/IDR mengalami konsolidasi setelah Fed berjanji untuk menjaga kebijakan moneter yang longgar dalam mendukung pemulihan ekonomi AS. Sejarah juga memeringatkan bahwa begitu pemulihan AS dinilai sudah cukup baik, IDR akan beriaiko terhadap ekspektasi arah kebijakan Fed, kurva imbal hasil obligasi AS yang naik dan akhirnya kenaikan suku bunga oleh Fed.
Menurut Philip, perbedaan suku bunga acuan yang positif antara Fed dan BI akan mendukung IDR pada tahun 2021 dan 2022. Untuk tahun 2022, konsensus memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga satu kali sebelum Fed menyiapkan kenaikan suku bunga.
Philip menjabarkan, dari sisi obligasi atau surat utang, perbedaan imbal hasil obligasi yang positif juga mendukung IDR pada tahun 2021 dan 2022. Namun, mungkin volatilitas pasar akan terjadi ketika imbal hasil 10-tahun AS naik di atas 1,50% pada tahun 2022.
“Sementara dari sisi pasar modal, performa Jakarta Composite Index (JKSE) yang mengikuti pemulihan IDR ketika pasar dunia juga mengalami kenaikan pasca-pemilu AS,” kata Philip.
