TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Analisis Terbaru Ekonom DBS tentang Ekonomi 2021

Achmad Adhito
11 February 2021 | 09:10
rubrik: Ekonomi
FOTO2 BURSA EFEK

Proyek LRT Garapan Adhi Karya di Jakarta (Dhi/TopBusiness)

Jakarta, TopBusiness—Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mengalami kontraksi sebesar 2,1% y/y pada tahun 2020, meninggalkan tahun 2020 yang penuh tantangan akibat pandemi, dengan kurva kasus positif yang belum melandai.

Perkembangan ekonomi 2020 juga menandai kontraksi pertama sejak krisis keuangan Asia di akhir tahun 90-an. Vaksin akan menjadi andalan tahun ini untuk memungkinkan dimulainya normalisasi.

Hal tersebut dipaparkan ekonom Bank DBS, Radhika Rao, dalam keterangan tertulis yang diterima kemarin malam oleh redaksi Majalah TopBusiness.

“Sementara indikator ekonomi domestik mengarah ke awal yang masih dihantui ketidakpastian di tahun 2021, keseimbangan ekspor neto yang lebih kuat ditopang oleh harga komoditas, dan keputusan pemerintah untuk meningkatkan paket stimulus yang didukung oleh belanja anggaran yang lebih cepat, kemungkinan besar akan menjadi faktor penyeimbang utama,” kata Radhika.

Dia memberikan catatan yang menggembirakan: arus modal kembali masuk di tengah buffers eksternal yang membaik, dan harapan tinggi akan reformasi struktural yang diumumkan pada puncak pandemi.

Untuk tahun 2021, Radhika mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi di 4%. Kebijakan moneter dan fiskal kemungkinan akan tetap kolaboratif seperti 2020, dengan Bank Indonesia (BI) memperpanjang bias dovish-nya (menjaga kesempatan untuk menurunkan suku bunga jika dibutuhkan nanti), kondisi pembiayaan yang kondusif, pertumbuhan kredit turun dan program pinjaman berjalan lancar .

Ekonom Bank DBS, Philip Wee memperkirakan USD/IDR akan bertahan di kisaran 14.000-14.500 pada 2021-2022. Perkiraan ini sejalan dengan tren resesi global sebelumnya.

Pertama, USD/IDR turun tajam setelah Fed Amerika Serikat (AS) memberikan stimulus untuk menstabilkan pasar keuangan global.

Kedua, USD/IDR mengalami konsolidasi setelah Fed berjanji untuk menjaga kebijakan moneter yang longgar dalam mendukung pemulihan ekonomi AS. Sejarah juga memeringatkan bahwa begitu pemulihan AS dinilai sudah cukup baik, IDR akan beriaiko terhadap ekspektasi arah kebijakan Fed, kurva imbal hasil obligasi AS yang naik dan akhirnya kenaikan suku bunga oleh Fed.

BACA JUGA:   H2 2022: Ekonomi RI Diprediksi DBS Tumbuh 5,2%

Menurut Philip, perbedaan suku bunga acuan yang positif antara Fed dan BI akan mendukung IDR pada tahun 2021 dan 2022. Untuk tahun 2022, konsensus memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga satu kali sebelum Fed menyiapkan kenaikan suku bunga.

Philip menjabarkan, dari sisi obligasi atau surat utang, perbedaan imbal hasil obligasi yang positif juga mendukung IDR pada tahun 2021 dan 2022. Namun, mungkin volatilitas pasar akan terjadi ketika imbal hasil 10-tahun AS naik di atas 1,50% pada tahun 2022.

“Sementara dari sisi pasar modal, performa Jakarta Composite Index (JKSE) yang mengikuti pemulihan IDR ketika pasar dunia juga mengalami kenaikan pasca-pemilu AS,” kata Philip.

Tags: ekonom dbspertumbuhan ekonomi 2021philip weeradhika rao
Previous Post

Perkuat Jasa Pelayanan Kepelabuhan, IPCC-Hyundai Resmi Kolaborasi

Next Post

Indah Kiat, Saham Pilihan Hari Ini

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR