Jakarta, TopBusiness—Saat ini, pembatasan jam operasional, jumlah pengunjung, dan protokol kesehatan masih diterapkan di pusat perbelanjaan, toko, dan restoran. Beradaptasi dengan kondisi saat ini memberikan ruang bagi pasar ritel untuk berinovasi.
“Pertokoan dan pusat perbelanjaan berinovasi dari berbagai lini dengan harapan dapat lebih meningkatkan kinerja penjualan mereka,” kata Sander Halsema, Head of Retail Services Colliers Indonesia, kemarin malam secara tertulis.
Ia menyebutkan beberapa tenant di pasar ritel mengubah konsep yang mereka miliki agar tetap bertahan. Akibat perubahan tersebut, beberapa konsep alternatif lainnya mulai muncul kembali dan berkembang.
Membuka pop-up store atau cloud kitchen melibatkan lebih sedikit modal sehingga menawarkan retailer di berbagai segmen sebuah kesempatan untuk mempertahankan keberadaan mereka di pasar atau untuk memperluas ke area baru dengan biaya yang jauh lebih rendah.
“Melihat kenyataan yang ada saat ini, hal tersebut dirasa cukup pantas untuk ditelusuri,” kata dia.
Halsema kemudian mencontohkan beberapa alternatif konsep ritel. Pertama, ruang ritel semi-outdoor. Dengan adanya peraturan pembatasan sosial akibat kondisi saat ini, banyak pengunjung yang akhirnya mulai mencari pusat perbelanjaan, toko atau bahkan restoran yang memiliki ruang terbuka.
Dengan memaksimalkan penggunaan area luar ruangan, landlord dapat memberikan pengalaman berbelanja yang lebih baik kepada pengunjungnya, terutama ditambah dengan adanya layout yang telah disesuaikan dan menggunakan teknologi yang canggih.
Kedua, pop-up stores. Membuka toko pop-up atau pop-up stores lebih menarik karena risiko finansialnya lebih rendah. Biaya untuk pop-up stores hanya merupakan sebagian kecil dari toko fisik dengan masa sewa yang panjang, antara lain karena area yang lebih kecil.
