Padang-Thebusinessnews, Masih minimnya anggota bursa ( AB) menyediakan layanan transaksi secara online untuk efek syariah, menjadi salah satu penyebab kurang berkembangnya industr pasar modal syariah. PT bursa Efek Indonesia terus mendorong Anggota Bursa untuk menyediakan layanan tersebut.
Menurut Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia, Nicky Hogan menyampaikan hingga saat ini AB yang memiliki Syariah Online Trading Sistem (SOTS) hanya delapan perusahaan. Namum diharapka dalam waktu dekat ini terdapat tiga AB lagi segera meluncurkan layanan tersebut , “ Jadi hingga akhir tahun terdapat 11 AB yang melayani trading online efek syariah, “ ucap dia, di Padang. Senin, 5 Oktober 2015.
Kedelapan AB tersebut, Indoprimer Sekuritas, KDB Daewoo Sekuritas, BNI Sekuritas, Trimegah Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Panin Sekuritas, Phintranco Sekuritas, dan Sucoinvest Sekuritas. Sementara Bank yang tercatat sebagai Bank Rekening Dana Nasabah syariah, Bank Syariah Mandiri, BCA Syariah, UUS Bank CIMB dan Bank Permata,
Sementera efek syariah hingga Agustus 2015, tercatat 318 saham syariah atau 62 peren dari total efek saham, 84 Reksadana syariah atau 8 persen dari total efek Reksadana, 41 sukuk korporasi atau 10 persen dari efek obligasi korporasi , 29 Sukuk negera 23 persen dari total surat utang negera, dan satu ETF syariah. (Az)