Jakarta, TopBusiness—PT Perkebunan Sumatera Utara (Perkebunan Sumut) terus melancarkan sejumlah strategi untuk menumbuhkan kembali kinerja. Sejumlah upaya dilakukan oleh Direktur Utama PT Perkebunan Sumatera Utara, Ghazali Arief.
“Berbagai upaya kami lakukan untuk sebuah transformasi,” kata Ghazali hari ini, dalam presentasi secara virtual untuk Dewan Juri Top BUMD Awards—sebuah ajang penilaian-penghargaan untuk BUMD se-Indonesia yang digelar Majalah TopBusiness bekerja sama dengan sejumlah lembaga seperti Institut Otonomi Daerah, Dwika Consulting, Yayasan Pakem, Melani Harriman and Associaties, Lembaga Kajian Nawacita, Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Padjajaran, dan lain-lain.
Ghazali mengatakan bahwa pihaknya menggelar terobosan dan inovasi dalam hal pemasaran. Di sini, BUMD tersebut menggelar KSO (kerja sama operasi), memerbaiki pabrik minyak kelapa sawit, memerbaiki dan menambah unit boiler, dan lain-lain.
Inovasi dalam manajemen atau pun tata kelola pun digelar. Dalam sistem SDM (sumber daya manusia), pembenahan pun berlangsung. Dalam hal tersebut, sistem SDM akan disinkronkan dengan strategi bisnis. “Prinsip ‘the right man in the right place’ akan kami jalankan,” papar Ghazali.
Juga, ada strategi untuk menaikkan kompetensi SDM. Hal itu berlaku untuk jajaran staf, direksi, dan komisaris. “Jadi, sistem manajemen, sistem kinerja, dan KPI (key performance indicator) dibenahi,” kata dia.
TI (teknologi informasi) pun dipakai dan diintensifkan. Contoh hal tersebut adalah adanya kerja sama dengan perusahaan lain untuk pengadaan ERP, E-Plas, dan E-PGS. “Dengan TI, kami bisa memerkecil peluang terjadinya manipulasi,” Ghazali menjelaskan.
Kinerja Keuangan
Dalam tanya jawab dengan Dewan Juri Top BUMD Awards 2021, Ghazali juga menjelaskan banyak hal tentang kinerja keuangan dan upaya untuk meningkatkannya lebih lanjut. “Untuk tahun 2020, dari ukuran EBITDA, kami sebenarnya positif. Hanya saja, karena tergerus oleh pembayaran utang ke bank dan lain-lain, tidak lagi demikian,” katanya.
Untuk tahun pembukuan 2020, BUMD tersebut mencatatkan kerugian sebesar Rp13,26 miliar. Angka itu membaik daripada di tahun 2019 yang rugi sebesar Rp16,87 miliar.
Pendapatan Perkebunan Sumatera Utara pada tahun 2020 di Rp218,88 miliar. Adapun pada tahun 2019, tercatat sebesar Rp247,89 miliar.
BUMD tersebut terus berupaya menurunkan overhead cost yang terlalu tinggi. Ini antara lain dengan melakukan pengurangan karyawan. “Dari pengurangan karyawan, kami bisa efisien sebesar kisaran Rp20 miliar per tahun. Kami pun menggandeng kejaksaan untuk atasi ketidaktransparanan dalam keuangan.”
Dijelaskannya pula bahwa sebenarnya, nilai aset Perkebunan Sumatera Utara jauh lebih besar daripada nilai liabilitas/kewajiban kepada perbankan. Total nilai aset ada di kisaran Rp700 miliar, sedangkan liabilitas ke perbankan pada kisaran Rp130 miliar. “Restrukturisasi utang ke perbankan tersebut sudah berjalan dua kali. Termasuk pada saat Covid-19, saya ke Jakarta untuk negosiasi dengan perbankan.”
Lebih lanjut, Ghazali menjelaskan bahwa idealnya, strategi transformasi untuk BUMD tersebut bisa berlangsung dalam sekitar tiga tahun.
