Jakarta, TopBusiness—Sejak tahun 2011 sampai pada saat ini, performa BPR Bank Pekalongan terus dalam tren membaik. Hal tersebut mencakup sejumlah aspek seperti tingkat kesehatan perusahaan, cakupan layanan, setoran dividen ke pemegang saham, tingkat layanan, kesejahteraan SDM, dan lain-lain.
Hal tersebut dikatakan oleh Direktur Utama BPR Bank Pekalongan, Agus Djunaedi, dalam presentasi melalui jaringan internet, untuk Dewan Juri Top BUMD Awards 2021, hari ini. Ajang penilaian-penghargaan untuk BUMD se-RI tersebut digelar oleh Majalah TopBusiness bersama sejumlah lembaga seperti Institut Ekonomi Daerah, Yayasan Pakem, Dwika Consulting, Lembaga Kajian Nawacita, Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Padjajaran, Melani Harriman and Associaties, dan lainnya-lainnya.
Agus menjelaskan bahwa pada tahun pembukuan 2020, BPR Bank Pekalongan mendapatkan laba sebesar Rp927,91 miliar. Ini setara dengan 115,49% dari yang ditargetkan.
Rasio kecukupan modal (CAR/capital adequacy ratio) sebesar 3,23%. Untuk NPL (nonperforming loan) net, pada angka 2,39%. Sedangkan cash ratio ada di 23,24%.
Angka LDR (loan to deposit ratio) di 80,30%. Rasio BOPO (biaya operasional berbanding pendapatan operasi) di 90,48%.
“Kami mencatatkan status ‘sehat’ untuk tahun 2020,” Agus menjelaskan. Adapun kredit disalurkan pada tahun 2020 di nilai Rp48,12 miliar.
Skor GCG (good corporate governance) untuk tahun 2019, ada di 1,67 atau berarti ‘sangat baik’. “Skor untuk yang tahun 2020, masih dalam proses,” kata dia.
Dalam hal manajemen, bank tersebut sudah punya standar KPI (key performance indicator) untuk menilai SDM. Upaya untuk menaikkan kompetensi SDM terus dilangsungkan, antara lain dengan pelatihan di Perbarindo dan lain-lain.
SDM ditempatkan dengan prinsip ‘the right man in the right place’. Perekrutannya disesuaikan dengan strategi bisnis yang dipakai.
Saat terjadinya dampak Covid-19, bank tersebut mengadakan sejumlah respons strategis. “Yakni dengan merestrukturisasi kredit, memberikan kemudahan untuk nasabah yang akan transaksi termasuk dengan layanan ‘jemput bola’, dan lain-lain,” Agus menjelaskan.
