TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Paparan Konsultan tentang Potensi Fixed Broadband

Achmad Adhito
16 September 2021 | 15:02
rubrik: Business Info
5.000 Km Kabel Optik Baru Biznet, Digelar 2018

Ilustrasi/Istimewa

Jakarta, TopBusiness—Tak dimungkiri, saat ini Indonesia menjadi negara yang paling menggiurkan di Asia Tenggara, termasuk dalam bisnis fixed broadband. Betapa tidak, wilayahnya yang luas di mana menjadi negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah penduduk yang banyak, menjadikan negeri ini sebagai pasar fixed broadband yang sangat potensial.

Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, mengatakan hal itu secara tertulis hari ini.

Apalagi, berdasarkan data World Bank, penetrasi pasar fixed broadband atau jaringan koneksi internet berbasis pita lebar tetap di Indonesia pada 2021 masih sangat kecil, yakni baru mencapai 4%. Padahal, dunia semakin digital dan koneksi internet yang stabil amat dibutuhkan.

Koneksi internet berkecepatan tinggi dan stabil itu diperoleh dari koneksi fixed broadband, bukan mobile broadband. Sehingga koneksi fixed broadband lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan bisnis, perniagaan, edukasi, dan hiburan ketimbang mobile broadband.

Karena tuntutan yang kian besar dari konsumen akan kualitas koneksi itu, maka perusahaan-perusahaan internet service provider (ISP) yang sekarang mayoritas mengandalkan teknologi mobile broadband diyakini juga bakal berlomba-lomba untuk merambah ke bisnis jaringan fixed broadband.

Persoalannya, menurut Jeffrey Bahar, berbeda dengan negara lain yang lebih kecil dan bukan negara kepulauan, menggelar jaringan fixed broadband di Indonesia, yang terdiri dari 17.000 pulau dari Sabang sampai Merauke, sangatlah tidak mudah.

“Dibutuhkan komitmen yang besar dan keberanian dalam mengambil risiko bagi perusahaan ISP untuk menggelar jaringan fixed broadband di Tanah Air,” katanya.

“Sebab, setidaknya ada empat faktor yang mengharuskan perusahaan ISP menaruh komitmen besar untuk itu.”

Pertama, membutuhkan cost of investment yang cukup mahal. Karena Indonesia amat luas dan berkepulauan, maka perusahaan ISP harus siap dengan modal besar untuk membangun jaringan fixed broadband, termasuk backbone dan kabel laut, demi menjangkau pelanggan yang lebih banyak.

BACA JUGA:   Kementerian PUPR Jajaki Kerja sama dengan Bank Investasi Infrastruktur Asia

Kedua, kebutuhan pasar yang bersifat lokal. Meski dunia digital bersifat tanpa batas, kebutuhan pasar antardaerah cenderung berbeda-beda sehingga harus dilayani secara berbeda-beda pula. Ketiga, pemain lokal yang tak sedikit mengakibatkan kompetisinya tak kalah sengit.

Keempat, tingkat return on investment-nya lama. Karena berbekal modal yang besar dengan tingkat kompetisi pasar yang ketat, maka perusahaan ISP harus siap memperoleh return on investment atau tingkat pengembalian investasi dalam jangka waktu lama.

“Empat faktor itulah yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan ISP berbasis teknologi fixed broadband yang sudah ada, bahkan diyakini juga dirasakan oleh pemimpin pasar (market leader) seperti IndiHome yang ditawarkan PT Telkom Indonesia Tbk., sekalipun,” kata dia.

Tags: fixed broadbandinternet broadband
Previous Post

Kartu Kredit Digital Ini Disetujui 60 Detik

Next Post

FOTO – Kemeriahan Ajang Top BUMD Awards 2021

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR