Jakarta, TopBusiness – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo sangat yakin posisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap akan baik. Hal ini tak lepas dari kinerja transaksi berjalan juga yang diperkirakan terus membaik didorong oleh surplus neraca barang yang berlanjut.
“Karena kita tahu neraca perdagangan Agustus 2021 lalu diumumkan mencatat surplus sebesar 4,7 miliar dolar AS, tertinggi sejak Desember 2006,” jelas Perry saat melakukan konferensi pers secara virtual untuk mengumumkan suku bunga BI 7 Day Reverse Repo Rate, dikutip Rabu (22/9/2021).
Surplus neraca perdagangan sendiri, kata dia, terutama dipengaruhi oleh peningkatan ekspor komoditas utama seperti CPO, batu bara, besi dan baja, serta bijih logam, di tengah kenaikan impor seiring dengan perbaikan ekonomi domestik.
Sementara itu, lanjut Perry, aliran masuk modal asing juga berlanjut dengan investasi portofolio mencatat net inflows sebesar 1,5 miliar dolar AS pada periode Juli hingga 17 September 2021 lalu.
Dengan posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2021 lalu meningkat menjadi sebesar 144,8 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 9,1 bulan impor atau 8,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta melampaui kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
“Ke depan, defisit transaksi berjalan pada 2021 diprakirakan tetap rendah di kisaran 0,6%-1,4% dari PDB, sehingga mendukung ketahanan sektor eksternal Indonesia,” pungkas Perry.
Terkait suku bunga BI sendiri, berdasar hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 20-21 September 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%.
Keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan, di tengah prakiraan inflasi yang rendah dan upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, BI juga terus mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendukung upaya perbaikan ekonomi lebih lanjut.
FOTO: Istimewa
