Jakarta, TopBusiness—Ekonom DBS, Radhika Rao, menganalisis bahwa Indonesia berada pada posisi baik untuk bertahan melawan risiko pengurangan pembelian aset (taper tantrum) oleh AS pada tahun ini. Hal itu ketika dibandingkan dengan pertarungan sebelumnya pada 2013.
“Kesenjangan transaksi berjalan saat ini jauh lebih kecil,” kata dia dalam riset yang diterima tadi pagi oleh Majalah TopBusiness.
Neraca ekspor dan impor barang kemungkinan akan tetap surplus bersih pada tahun ini. Hal itu mengimbangi penerimaan pariwisata lebih rendah dan arus keluar pendapatan utama.
Selain lonjakan surplus dagang sebesar 70% yoy pada Januari-Juli 2021, Agustus mencatat rekor surplus sebesar 4,7 miliar dolar AS, karena ekspor diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas global yang meningkat 64% yoy (minyak dan gas 78%, pertambangan 163%).
“Dengan angka yoy juga didukung oleh unsur basis,” kata Radhika.
Neraca pembayaran 2020 mengalami surplus (2,6 miliar dolar AS) untuk tahun kedua berturut-turut.
