Jakarta, TopBusiness—Plt. Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian RI, Putu Juli Ardika, menyebutkan beberapa kontribusi industri kelapa sawit bagi Indonesia. Pencapaian kuantitatif, antara lain menyumbang devisa ekspor lebih dari Rp300 triliun per tahun.
“Dan menyerap tenaga kerja sebanyak 5,2 juta orang,” kata dia secara tertulis pada hari ini.
“Adapun capaian kualitatifnya, antara lain menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi di luar Jawa, menggerakkan aktivitas produktif daerah 3T (terluar, terpencil, dan tertinggal), serta menjaga kedaulatan ekonomi dan teritorial di perbatasan negara,” paparnya.
Sementara itu, Putu menegaskan, Kemenperin fokus untuk menjalankan kebijakan hilirisasi industri berbasis minyak sawit. Upaya strategis ini dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku lokal sekaligus mendorong masuknya investasi dan pendalaman struktur manufaktur dalam negeri.
Indikator keberhasilan hilirisasi industri minyak sawit dalam negeri adalah rasio volume ekspor antara bahan baku (CPO/CPKO) dibandingkan produk olahan. Pada kurun waktu 2016-2020, rasio volume ekspor bahan baku dengan produk olahan berada di tingkat 20% banding 80%.
“Berdasarkan data Gapki, pada tahun 2021 sampai dengan bulan Agustus 2021, rasio volume ekspor meningkat menjadi 9,27% banding 90,73%,” kata dia.
“Saat ini, lebih dari 160 ragam jenis produk hilir olahan minyak sawit telah mampu diproduksi di dalam negeri, di antaranya untuk keperluan pangan, fitofarmaka, bahan kimia (oleokimia), hingga bahan bakar terbarukan (biodiesel). Angka ragam jenis ini mengalami peningkatan yang signifikan dari ragam jenis pada tahun 2011 yang hanya mencapai 54 jenis produk saja,” tambahnya.
