Jakarta, TopBusiness – Harga batu bara global yang berangsur-angsur naik sejak Oktober tahun lalu dan terus berlanjut sampai dengan akhir September tahun ini ke level US$ 180,4 per ton semakin memperkokoh kinerja keuangan perseroan yang secara konsisten menerapkan strategi manajemen biaya yang berhati-hati.
Di tengah peningkatan harga batu bara yang tajam, PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) tetap menerapkan efisiensi biaya secara disiplin untuk mampu memaksimalkan keuntungan dari momentum kenaikan harga, sehingga menghasilkan kinerja keuangan yang solid sekalipun pandemi berkepanjangan dan kegiatan penambangan melambat akibat hujan ekstrim yang terus-menerus.
Sepanjang sembilan bulan pertama 2021, Perusahaan mencatat perolehan rata-rata harga batu bara sebesar US$ 89,0 per ton, naik 65% dari US$ 53,8 per ton secara tahunan dengan total volume penjualan 14,8 juta ton.
Penjualan bersih tercatat sebesar US$ 1,32 miliar pada sembilan bulan pertama 2021, sedangkan marjin laba kotor naik 24% menjadi 40% pada sembilan bulan pertama tahun ini.
Kenaikan harga jual rata-rata yang kuat ditambah control biaya yang disiplin dan konsisten, semakin memperkuat arus kas Perusahaan. EBITDA tercatat sebesar US$ 514 juta pada sembilan bulan pertama 2021, naik 309% dari periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan laba bersih naik signifikan sebesar 603% dari US$ 39 juta pada sembilan bulan pertama 2020 menjadi US$ 271 juta pada periode yang sama tahun ini. Adapun laba bersih per saham dibukukan sebesar US$ 0,25 per saham.
Mulianto, Direktur Utama ITMGD mengatakan, dari volume target penjualan 20,2–20,4 juta ton untuk tahun ini, seluruhnya telah memperoleh kontrak penjualan. “Sebanyak 84% harga jualnya telah ditetapkan, sedangkan sisanya 16% mengacu pada indeks harga batu bara,” kata dia, Selasa (16/11/2021).
Sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2021, Perusahaan telah menjual 14,8 juta ton batu bara yang meliputi Tiongkok (4,1 juta ton), Indonesia (3,2 juta ton), Jepang (2,1 juta ton), Filipina (1,4 juta ton), Thailand (1,0 juta ton), dan negara-negara lain di Asia Timur, Tenggara, dan Selatan serta Oseania.
Sampai dengan akhir September 2021, total asset Perusahaan tercatat sebesar US$ 1,5 miliar dengan total ekuitas sebesar US$ 1,3 miliar. Perusahaan memiliki posisi kas dan setara kas yang kuat sebesar US$ 510 juta dengan posisi total pinjaman bank sebesar US$ 40 juta.
Dengan posisi keuangan yang semakin kukuh tersebut, ITM mampu mempertahankan tingkat pembayaran dividen yang tinggi. Perusahaan telah mengumumkan pembagian dividen interim sebesar US$ 94,1 juta atau setara dengan 80% dari laba bersih semester pertama 2021.
“Guna menjawab tantangan yang ditimbulkan oleh transformasi sektor energi di masa yang akan datang, Perusahaan mempunyai rencana bisnis yang mencakup 3 bidang utama, yaitu bisnis pertambangan, perdagangan dan jasa, serta bisnis terbarukan dan lainnya,” ungkapnya.
Pada bisnis pertambangan, ITM akan terus melakukan eksplorasi tambang yang dimiliki guna memastikan pertumbuhan cadangan organik. Selain itu, PT Graha Panca Karsa (GPK) direncanakan akan melakukan uji coba produksi di penghujung tahun 2021 dengan target 10.000 ton.
Di bidang perdagangan dan jasa, Perusahaan akan melakukan ekspansi pembelian batu bara yang bersumber dari pihak ketiga guna meningkatkan pendapatan dari perdagangan dan pencampuran batu bara. PT Energi Batubara Perkasa (EBP), anak perusahaan ITM telah mengapalkan batu baranya yang pertama ke Tiongkok pada tanggal 27 Agustus 2021 dari Terminal batu bara Bontang dengan total volume sekitar 79.000 ton.
“Pengapalan perdana tersebut menandai kesiapan EBP untuk berperan dalam ekspansi Perusahaan di bidang perdagangan batu bara,” ungkapnya.
Dalam bisnis energi terbarukan dan bisnis lainnya, Perusahaan sedang melakukan finalisasi dari perencanaan konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pelabuhan yang berada di gugus Melak. Perusahaan juga akan mengaplikasikan berbagai solusi mining digital untuk operasi penambangan yang lebih efisien dan kontrol biaya yang lebih baik.
Terakhir, ITM tetap bertekad melanjutkan upaya untuk mentransformasi diri menjadi perusahaan berbasis digital dalam operasi penambangan sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemantauan dan kendali biaya.
“Pada saat yang sama, ITM terus berkomitmen untuk mempraktikkan nila-nilai ESG (Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola Perusahaan) yang kini telah menjadi kepedulian global. Salah satu inisiatif ITM adalah penyelesaian total area rehabilitasi 14.433 hektar di daerah aliran sungai,” ungkap dia.
ITM juga melakukan berbagai upaya dalam mendukung kesehatan publik dan mengurangi dampak dari COVID-19.
Mulai Juli 2021, Perusahaan berpartisipasi dalam Program Vaksinasi Gotong-Royong (VGR) dalam rangka memfasilitasi vaksin COVID-19 untuk seluruh karyawannya. Selanjutnya, sejak Agustus 2021 ITM dan anak perusahaannya memberikan donasi berupa tabung oksigen, alat monitor pemantau pasien, HFNC (high flow nasal canula) dan alat-alat medis lainnya untuk fasilitas kesehatan masyarakat sesuai permintaan rumah-rumah sakit di sekitar area operasi penambangan.
FOTO: Istimewa
