TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Harapan Erick Thohir, NSS 2021 dapat Membawa Transformatif Industri Gula

Albarsyah
1 December 2021 | 15:17
rubrik: Business Info
Harapan Erick Thohir, NSS 2021 dapat Membawa  Transformatif Industri Gula

Jakarta, TopBusiness – Konferensi industri gula terbesar di Indonesia, National Sugar Summit  (NSS) 2021 resmi dibuka oleh Menteri BUMN RI Erick Thohir, Rabu (1/12/ 2021), di Jakarta.

Acara yang digelar selama dua hari pada 1-2 Desember 2021  tersebut mengangkat tema “Bridging The Great Challenges between Consumers and  Industry in Pursuing Sugar Self Sufficiency, is it possible?” dan menghadirkan  sejumlah pembicara ternama dari unsur pemerintahan, akademisi, pelaku usaha,  serta praktisi pergulaan nasional maupun internasional.

Pembukaan NSS 2021 dilakukan secara simbolis oleh Menteri BUMN Erick Thohir  didampingi Arief Prasetyo Adi, Ketua Umum IKAGI Aris Toharisman, dan Direktur  Utama PTPN III Holding Perkebunan Muhammad Abdul Ghani. Hari pertama gelaran  NSS 2021 menghadirkan keynote speech Kebijakan Pergulaan Nasional dari Menteri  Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto.  

Menteri BUMN, Erick Thohir, menyampaikan peran dan kontribusi BUMN dalam ketahanan pangan dan swasembada gula.

Menurutnya, BUMN memiliki tanggung  jawab sebagai penyeimbang market untuk memastikan pertumbuhan ekonomi  bangsa.  “Keseimbangan, itulah yang saya tekankan ketika mengkonsolidasikan pangan yang  ada di BUMN dan cukup berat tantangannya,” ujar Menteri Erick kepada TopBusiness.id.

Erick mengatakan, untuk mewujudkan keseimbangan tersebut, BUMN yang bergerak  di industri pangan harus terus di-upgrade dan mengedepankan kolaborasi. Ia  kemudian menyinggung dua BUMN yang menjadi motor penggerak di industri gula  nasional, yaitu RNI dan PTPN.  “RNI dan PTPN harus upgrading dia punya pabrik, harus menambah lahan tebunya.  Research and development (R&D) harus dilakukan tapi kerja sama dengan  universitas, kita yang mengkorporasikan,” ujarnya.

Erick menekankan, dalam mewujudkan keseimbangan di sektor pangan, BUMN tidak  boleh menjadi menara gading dan harus berani terbuka membangun kolaborasi.  “Jangan semua mau diambil. Kita harus kolaborasi, dengan swasta, dengan petani,  dengan semua pihak. Untuk keseimbangan,” katanya.

BACA JUGA:   LPS Pangkas Bunga Simpanan di Bank

Ia juga menyampaikan, bahwa saat ini kepentingan yang terus diupayakan bersama  adalah mendorong pertumbuhan ekonomi sampai tahun 2045. Hal tersebut sejalan  dengan pesan Presiden bahwa kita harus menjadi sentra pertumbuhan ekonomi  dunia. Mengingat, Indonesia tidak hanya didukung market yang kuat, tetapi juga  memiliki sumber daya alam yang melimpah, baik hasil pertambangan, pertanian,  perkebunan, matahari, air, serta ketersediaan areal yang luar biasa.

Dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi, lanjut Erick, ketahanan pangan  menjadi salah satu konteks yang sangat penting di luar ketahanan energi dan  kesehatan. Namun, untuk menjaga ketahanan pangan diperlukan usaha dan  kesepakatan bersama. 

“Kita sama-sama sepakati roadmap kita, sepakati ekosistem kita. Mana yang impor,  mana yang produksi dalam negeri dengan data yang sama, yang tidak perlu impor  kita coba maksimalkan (produksinya) di sini. Apa salahnya kita membuat kebijakan  yang pro market, tetapi juga penting untuk ketahanan pangan kita,” tandasnya.

Erick berharap NSS 2021 dapat menghasilkan keputusan-keputusan konkrit yang  dapat membawa perubahan transformatif bagi industri gula. “Saya pastikan kami yang mengawasi BUMN Pangan akan terus memastikan  transformasi terjadi. Transformasi ada hasilnya. Kita terus menggenjot program program yang coba membantu kehidupan,” paparnya.

Sementara itu, Direktur Utama RNI, Arief Prasetyo Adi, yang hadir sebagai tuan rumah  penyelenggara NSS 2021 serta selaku Ketua Dewan Pengarah Asosiasi Gula Indonesia  (AGI), mengatakan selain sebagai agenda rutin, NSS 2021 digelar untuk merespon  berbagai kondisi dan dinamika yang dihadapi industri gula nasional saat ini. Dari mulai  kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan gula, tingginya impor, hingga penurunan  ketersediaan lahan tebu. 

“Untuk merespon kondisi pergulaan nasional tersebut, AGI dan Ikatan Ahli Gula  Indonesia (IKAGI) kembali mengadakan acara National Sugar Summit 2021, bekerja sama dengan RNI sebagai tuan rumah. Melalui forum ini diharapkan akan lahir  gagasan-gagasan baru yang dapat digunakan sebagai bahan bagi Pemerintah, dan  pihak-pihak terkait dalam menyusun kebijakan pergulaan nasional, guna mendukung  ketahanan pangan nasional melalui swasembada gula dan kemajuan Industri Gula  Indonesia,” ujarnya.

BACA JUGA:   SKK Migas Dorong Pertumbuhan Industri Petrokimia di Daerah Penghasil Gas

Arief mengatakan, upaya peningkatan produksi gula terus dilakukan melalui berbagai  pendekatan, baik sisi teknis melalui peningkatan produktivitas, ekstensifikasi lahan,  pengembangan pola kemitraan petani tebu, maupun perluasan keterlibatan kegiatan  riset. Kuncinya adalah semua dilakukan dengan mengedepankan kolaborasi dengan  berbagai pihak. 

Ditambahkan Arief, salah satu kolaborasi pembenahan industri gula yang baru-baru  ini dilakukan adalah kerja sama yang dibangun antara RNI, PTPN III dan Perhutani  dalam menyiapkan tata kelola budidaya tebu melalui sinergi dengan Pupuk Indonesia,  Bank BRI, Jasindo, Askrindo dalam program “Makmur”. 

“Target musim tanam 2022, seluas 40.000 Ha disertai peningkatan kuantitas dan  perbaikan kualitas bahan baku tebu, serta tujuan pentingnya adalah untuk  peningkatan pendapatan dan kesejahteraan Petani,” ujarnya.

Saat ini Kementerian BUMN terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan  produksi gula BUMN, diantaranya dengan mendorong pengembangan lahan tebu  menjadi 11 ribu untuk mendukung swasembada serta revitalisasi dan pendirian pabrik  baru. Diharapkan, melalui upaya peningkatan ini, Produksi Gula BUMN akan  meningkat sebesar 371 ribu ton di tahun 2022, dan meningkat 1.1 Juta ton di tahun  2024.  Berdasarkan data Kementerian BUMN, dari 2,3 juta ton produksi gula nasional di  tahun 2021, Pabrik Gula (PG) BUMN yang dikelola oleh RNI dan PTPN Holding  Perkebunan berkontribusi sekitar 1 juta ton atau 46% dari total produksi nasional.  PTPN dan RNI sendiri memiliki total 40 PG operasional dengan kapasitas 146 ribu  Ton Cane per Day (TCD) dan total lahan 197 ribu Ha.

Previous Post

MedcoEnergi Raih Tujuh Penghargaan SKK Migas

Next Post

Indeks Catat Pengurangan Poin

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR