TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

BI: Kenaikan Inflasi Baru Terjadi pada Pertengahan 2022

Nurdian Akhmad
24 December 2021 | 17:17
rubrik: Ekonomi
Jelang Ramadhan, BI Sebut Ada Perbaikan Kinerja Penjualan Eceran

FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness –  Bank Indonesia (BI) memperkirakan kenaikan inflasi di Tanah Air baru akan terjadi pada pertengahan tahun depan seiring dengan pemulihan ekonomi nasional.

Hingga pekan kedua Desember 2021, Bank sentral memperkirakan inflasi 2021 sebesar 1,64 persen, dengan target tahun depan tetap terjaga sebesar tiga plus minus satu persen.

 “Mungkin baru ada tanda-tanda kenaikan inflasi yang fundamental tentu saja bukan yang short-term inflation di kuartal III tahun depan. Jadi suku bunga tahun depan kami akan coba rendah 3,5 persen sampai ada tanda-tanda kenaikan inflasi,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam webinar, Jumat (24/12/2021).

Sebab itu, BI memberikan sinyal akan tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,5 persen sampai dengan tahun depan. Suku bunga acuan BI sudah dipertahankan pada level saat ini selama 10 bulan terakhir sejak Maret 2021.

 Menurut Perry, suku bunga acuan rendah akan tetap dipertahankan dengan mempertimbangkan rendahnya inflasi. Apalagi selama ini keputusan mempertahankan suku bunga acuan sejalan dengan masih perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan, di tengah perkiraan inflasi yang rendah dan upaya mendukung pertumbuhan ekonomi.

 “Suku bunga 3,5 persen kami akan terus mempertahankan di tahun depan, sampai dengan ada tanda-tanda untuk kenaikan inflasi,” kata Perry.

BI juga akan mulai mengurangi likuiditas yang saat ini rasio Alat Likuid per Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tercatat sebesar 34 persen. Meski begitu, Perry memastikan pengurangan likuiditas ini akan tetap dilakukan secara hati-hati tanpa menganggu fungsi intermediasi dan kemampuan perbankan menyerap surat utang pemerintah.

BACA JUGA:   Insentif Pembiayaan Hijau ke Bank: Capai Rp36,38 Triliun
Tags: bank indonesiainflasiperry warjiyo
Previous Post

Riset: Sepanjang 2021, Startup Indonesia Raih Pendanaan $4,1 M dan Miliki 11 Unicorn

Next Post

Dukung Aksi Kemanusiaan, DAHANA Serahkan Bantuan Perahu Karet ke BPBD Subang

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR