Jakarta, TopBusiness—Pada tahun 2021, titik balik perang melawan Covid-19 mulai membuahkan hasil, di mana sebagian besar penduduk dunia telah melakukan vaksinasi yang memberikan kekebalan terhadap penyebaran Covid-19. Dengan kondisi tersebut, maka sejumlah negara di dunia pun mulai kembali memutar roda perekonomiannya yang berdampak pada kembali meningkatnya permintaan terhadap minyak mentah dan beberapa sumber energi fosil lainnya sebagai bahan dasar listrik yang digunakan untuk kegiatan industri sehingga dapat kembali beroperasi.
Hal itu dipaparkan analis dari ICDX, Nikolas Prasetia, dalam hasil riset yang diterima kemarin malam oleh Majalah TopBusiness.
Komoditi minyak sawit mentah atau crude palm oil masih diminati hingga akhir tahun 2021. Bursa Komoditi ICDX sendiri mencatat pertumbuhan transaksi minyak mentah sepanjang tahun 2021 mencapai angka yang cukup fantastis dengan pertumbuhan yaitu sebesar 173% dibandingkan dengan transaksi yang terjadi sepanjang tahun 2020 lalu.
Dari sisi harga, harga minyak dunia berdasarkan benchmark West Texas Intermediate (WTI) sempat menguat 79% sejak awal tahun dan menyentuh $85,41/barel pada akhir bulan Oktober lalu. Pembentukan harga tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya adalah ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran.
Jumlah permintaan yang melonjak tersebut tidak hanya disebabkan oleh perbaikan perputaran roda ekonomi, terdapat faktor lain yaitu krisis energi. Seperti yang terjadi di Eropa, kekurangan cadangan gas alam pada saat musim dingin 2020 menjadi penyebab negara-negara Eropa melakukan pembelian energi fosil dalam bentuk lainnya, seperti minyak mentah yang menjadi pengganti gas alam sebagai energi penghangat pada musim dingin lalu.
Selain Eropa, China yang bergantung besar pada batu bara, pada awal tahun ini berkomitmen untuk melakukan penurunan emisi dari penggunaan batu bara yang diimplementasikan melalui penurunan produksi batu bara. Efek penurunan penggunaan batu bara tersebut berdampak negatif pada sejumlah wilayah di China yang tidak mampu mempertahankan cadangan listriknya, sehingga permintaan energi harus beralih pada komoditi minyak mentah sebagai sumber untuk pembangkit listrik.
Tingginya permintaan tersebut berhasil membuat harga minyak mentah dunia termasuk benchmark WTI dan Brent meningkat jika dibandingkan pembukaan perdagangan di awal tahun 2020.
“Sementara itu, sejak awal kuartal keempat tahun 2021, tren perdagangan harga minyak terjadi koreksi akibat kekhawatiran pasar atas varian baru Covid-19 yang diwaspadai dapat kembali menekan permintaan terhadap minyak mentah, karena penerapan kembali pembatasan sosial yang menurunkan permintaan energi baik untuk listrik maupun untuk bahan bakar,” kata Nikolas.
