Jakarta, TopBusiness – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Penataran Kabupaten Blitar terus berinovasi untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan serta berkontribusi buat pembangunan daerah.
Salah satu inovasi baru yang dilakukan manajemen PDAM Tirta Penataran adalah memproduksi air minum dalam kemasan (AMDK) sendiri bermerek “Blit”.
Hebatnya lagi, investasi untuk membangun fasilitas produksi AMDK ini relatif kecil di bawah Rp 1 miliar dan tanpa penyertaan modal pemerintah.
“Kami tidak melakukan investasi pengadaan lahan, kami memanfaatkan space yg ada di lingkungan kantor kami. Kemudian air yg kita pakai juga mengambil dari jaringan perpipaan kami dari sumber di Kecamatan Wlingi, sehingga biaya investasinya tidak besar,” kata Yoyok Widoyoko, Direktur PDAM Tirta Penataran dalam sesi Presentasi dan Wawancara Penjurian TOP BUMD Awards 2022 yang dilakukan secara virtual, Rabu (16/3/2021).
Yoyok dalam sesi penjurian ini didampingi Seti Wahono (Kabag Teknik), Yuniningsih (Anggota SPI), Suci Rahayu (Kabag Administrasi & Keuangan), Munariyanto (Kasubag Perencanaan), dan Giyarno (Ketua SPI).
Kapasitas produksi AMDK Blit mencapai 4.000 liter per jam atau dalam satu jam mampu menghasilkan 200 galon isi 20 liter. Selain kemasan galon, PDAM Tirta Penataran juga memproduksi AMDK kemasan botol mulai dari isi 1.500 militer, 600 ml, 300 ml, dan yang paling kecil 200 ml.
Peresmian produksi AMDK ini dilakukan langsung oleh Bupati Blitar pada 1 Februari 2021 di Kantor PDAM Wlingi. Meskipun produksi sudah berjalan, kata Yoyok, pihaknya belum bisa memasarkan AMDK merek Blit ini karena masih dalam proses mendapat izin edar dan memperoleh SNI. Demikian pula harga produk AMDK tersebut masih belum ditetapkan.
“Kami belum bisa menjual, kami baru promosi-promosi dengan sample kami, sambil menunggu izin edar keluar,” kata dia.
Menurut Yoyok, pangsa pasar AMDK Blit di Kabupaten Blitar sangat bagus, terlebih Bupati Blitar sudah mengeluarkan surat edaran yang menginstruksikan dinas-dinas dan seluruh OPD hingga tingkat kecamatan untuk menggunakan AMDK Blit.
“Di Kabupaten Blitar ini ada kurang lebih 30 dinas yang setiap hari bisa menghabiskan 5 galon per dinas, belum lagi dari sekolah-sekolah yang setiap hari membutuhkan ratusan galon. Jadi pasarnya cukup besar,” tutur dia.
Apalagi, menurut Yoyok, Pemerintah Kabupaten Blitar sedang menggalakkan gerakan aksi Blitar Libas Sampah Plastik (Balistik) untuk mengurangi plastik air kemasan dan diganti dengan air galon.
Selain produksi AMDK sendiri, prestasi lain yang patut dibanggakan dari PDAM Tirta Penataran adalah kinerja perusahaantahun 2021 yang tetap meningkat meskipun ada Reklasifikasi dan penurunan tarif.
Untuk memberikan rasa keadilan terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah, PDAM Tirta Penataran melakukan reklasifikasi golongan pelanggan dan penyesuaian tarif bagi pelanggan Rumah Tangga khususnya daerah sulit air dari tarip flat Rp 6.100 meter kubik menjadi tarip progresif dengan tarip dasar Rp 4.580 per meter kubik.
“Penurunan tarif itu tidak membuat PDAM rugi tetapi malah ada peningkatan pendapatan dan laba,” kata dia.
Yoyok menjelaskan, pendapatan PDAM Tirta Penataran pada 2021 mencapai Rp 17,76 miliar, meningkat dari Rp 14,11 miliar pada 2020. Sedangkan laba bersih setelah pajak tahun 2021 sebesar Rp 2,69 miliar, naik 162,96 persen dibanding 2020 sebesar Rp 1,02 miliar.
Sementara itu, cakupan pelayanan teknis PDAM Tirta Penataran tahun 2021 sebesar 6,99 persen, tahun 2020 sebesar 6,98 persen. Jumlah pelanggan juga bertambah dari 14.568 Sambungan Langsung (SL) pada 2020, menjadi 14.961 SL pada 2021. Sedangkan tingkat kehilangan air (NRW) di PDAM ini masih di angka 28,98 persen.
