Jakarta, TopBusiness – Indonesia memiliki lima pabrik gula (PG) baru dengan kontribusi sekira 600 ribu ton atau 20 persen dari produksi nasional yang mencapai 3,2 juta. Dengan kondisi ini, tidak perlu ada kekhawatiran terhadap ancaman krisis pangan dunia terutama untuk gula.
“Gula tantangannya ke depan bisa diatasi karena produksi sudah bisa penuhi 80 persen kebutuhan dalam negeri. Apalagi, ditambah dengan lima pabrik baru,”kata Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud dalam Pembukaan Musyawaran Nasional I Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo) di kawasan Sudirman, Kamis (9/6/2022).
Kendati sisanya masih impor, tapi berdasarkan pantauan pemerintah, ketersediaan dan harga gula internasional masih aman. “Untuk industri masih impor, tapi pemerintah sudah ke Brasil. Harga cukup dan bisa terjaga,” kata Musdhalifah.
Dia mengakui, harga gula saat ini kembali naik ke sekira Rp 14 ribu per kilogram (kg), tapi ini masih lebih rendah dari awal pandemi Covid-19.
“Saat ini, harga lebih tinggi dari biasanya, tapi itu wajar. Tidak seperti di awal pandemi Rp 20 ribu per kg, sekarang Rp 14 ribu per kg, masih kita anggap wajar, dan terus kita jaga hingga akhir 2022,” ucapnya.
Lima pabrik gula tebu baru ini tergabung dalam Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo). Koordinator Nasional Munas I, Gapgindo, Syukur Iwantoro menargetkan produksi gula anggotanya tersebut tahun ini mencapai 400 ribu ton.
Dia mengatakan, mesin penggilingan dari kelima pabrik baru itu menggunakan teknologi modern sehinga mampu menghasilkan produksi dan kualitas secara optimal.
Dalam dua tahun ke depan, Gapgindo menargetkan total produksi bisa mencapai 600 ribu ton atau 20 persen dari kebutuhan nasional.
“Kami punya komitmen yang kuat dan tentu petani hidupnya harus sejahtera sehingga akan bergairah merawat tebunya dengan pasokan dan kualitas yang sesuai,” kata Syukur.
Saat ini rata-rata produksi gula tebu nasional khusus untuk kebutuhan konsumsi masyarakat baru berkisar 2,31 juta ton sehingga masih terjadi defisit sekiar 850 ribu ton dari kebutuhan nasional 3,2 juta ton.
Beroperasinya pabrik gula baru diharapkan bakal menggenjot produksi gula hingga mencapai swasembada pada tahun 2024. Target swasembada tahun 2024 juga dicanangkan oleh Kementerian Pertanian untuk melepaskan diri dari ketergantungan impor yang terjadi lebih dari setengah abad.
