Jakarta, TopBusiness—Bank BTN punya struktur GRC yang paralel dengan strategi transformasi yang ditempuh. “Bagi BTN, GRC bukan sekadar slogan. Namun, GRC mendampingi perusahaan untuk lebih sustain,” kata Direktur Utama Bank BTN, Haru Koesmahargyo, dalam presentasinya untuk Dewan Juri Top GRC Awards 2022, kemarin sore.
Haru menjelaskan bahwa, mulai tahun 2021, Bank BTN sudah mengimplementasikan transformasi.
Dalam road map transformasi tersebut, tahun 2021 merupakan tahap transformasi untuk pertumbuhan berkelanjutan.
Tahun 2022-2023 merupakan tahap perluasan ke area bisnis baru. Sedangkan tahun 2024-2025 merupakan tahap ini: disrupsi dan perluasan skala via digitalisasi.
Haru menjelaskan pula bahwa Bank BTN mampu mencatatkan kinerja solid-sustain, saat pandemi Covid-19.
Ada beberapa contoh untuk hal tersebut. Antara lain bahwa ada tren penurunan rasio NPL (non-performing loan) di masa Covid-19 sekali pun.
Tahun 2021, NPL di 3,70%. Sementara di tahun 2020, angka tersebut di 4,37%. Sedangkan di tahun 2019, angka itu masih lebih tinggi yakni 4,78%.
“Kami meyakini bahwa GRC memberikan sustainibility untuk ke depan.”
Bagi Bank BTN, adalah percuma bila aspek keuangan bagus tetapi tidak bagus dalam sustainability. “Jadi, aspek keuangan dan sustainability, kami pentingkan bersamaan,” Haru menegaskan.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Direktur Utama Bank BTN, Nixon Napitupulu, menjelaskan sejumlah hal tentang hasil penilaian GRC di bank tersebut, untuk tahun 2021.
Pada kuartal pertama 2021, skor IGRC ada di 1.60 atau berarti ‘baik’. Untuk kuartal kedua 2021, skor itu ada di 1,76 atau berarti ‘baik’.
Kuartal ketiga tahun tersebut, skor itu ada di 1,77 atau ‘baik’. Kemudian di kuartal keempat 2021, skor itu sebesar 1,94 atau ‘baik’.
Ada beberapa aspek penilaian IGRC. Antara lain tata kelola, profil risiko, dan lain-lain. “Yang terbesar adalah aspek tata kelola dengan bobot 60%,” Napitupulu menjelaskan.
