Jakarta-Thebusinessnews.Bank Indonesia (BI) resmi menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) Primer sebesar 1 persen, dari 7,5 persen menjadi 6,5 persen. Kebijakan tersebut akan menjadi insentif bagi industri perbankan untuk meningkatkan likuiditas.
Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Budi Gunadi Sadikin mengaku menyambut baik langkah kebijakan yang diambil BI tersebut. Dengan besaran penurunan GWM tersebut, diperkirakam ada kelonggaran likuiditas di Mandiri sebesar Rp4,1 triliun.
“Jadi kita ada kelonggaran likuiditas Rp4,1 triliun. Karena lukuiditas saat ini sedang ketat, jadi BI mengeluarkan itu meringankan sih,” katanya di Gedung BI, Jakarta, Kamis (18/2/2016).
Menurutnya, jika BI hanya menurnkan suku bunga acuan saja yang saat ini menjadi 7 persen, hal itu hanya akan meningkatkan permintaan kredit di perbankan. Namun kemampuan penyaluran kredit dari perbankan akan semakin terkendala.
“Karena sekarang masalahnya kurang likuiditas, mau kasih kredit uangnya tidak ada. Dengan begini longgar likuiditas. Sehingga ga usah rebutan SB (surat berharga). Kemarin kesulitan SB diturunin lukuiditas tidak ada, bank pasti penting sekali likuiditas,” imbuhnya.
Dengan begtiu, Budi optimistis pertumbuhan kredit Mandiri tahun ini bisa mencapai 13 persen.
Sebelumnya diberitakan, dengan penurunan suku bunga yang dibarengi dengan penurunan GWM diperkirakan likuiditas perbankan tahun ini bisa mencapai Rp34 triliun. BI juga memproyeksikan pertumbuhan kredit industri perbankan tahun ini bisa mencapai 14 persen.(az)