Jakarta, TopBusiness – PT Pan Brothers Tbk (PBRX) berencana menerbitkan green bond (obligasi berwawasan lingkungan) paling lambat tahun 2024. Penerbitan obligasi ini dipilih karena memiliki suku bunga yang lebih ringan.
“Ada rencana 2024, paling lambat kita akan masuk green bond dengan suku bunga yang jauh lebih rendah lagi. Itu yang akan kita laksanakan, mungkin tahapan-tahapan itu yang akan menjadikan Pan Brothers lebih kuat, karena kita harus tetep progresif, tidak bisa diam menunggu,” kata GM Corporate Secretary PBRX Iswardeni dalam penjurian TOP GRC Awards 2022 yang dilakukan secara daring oleh Majalah TopBusiness, kemarin.
Iswardeni juga menegaskan bahwa performa PT Pan Brothers Tbk saat ini cukup baik, tidak terlalu terpengaruh oleh berbagai faktor eksternal seperti kenaikan harga bahan baku, tarif listrik, fluktuasi kurs dolar AS, serta kenaikan suku bunga.
“Tidak ada masalah terkait kenaikan harga bahan baku. Tahun 2021, performance kami sedikit turun, masalahnya bukan di bahan baku, tapi di logistik terutama trasportasi karena ada banyak lock down di beberapa negara supplier kita, sehingga delivery-nya terganggu,” tuturnya.
Mengantisipasi tersendatnya pasokan bahan baku tekstil dari luar negeri, Iswardeni mengaku sudah berbicara dengan asosiasi pelaku usaha untuk bisa menarik investor produk bahan baku pengganti impor. “Kalau itu bisa dilakukan, otomatis daya saing kita akan bertambah. Jadi kita bisa menerapkan just in time sepenuhnya,” ucapnya.
Terkait biaya listrik di pabrik PT Pan Brothers, menurut Iswardeni, komponen biaya listrik di Perseroan sangat kecil atau hanya 1 persen dari total biaya. Selain itu, sebagian pabrik garmen dan tekstil PT Pan Brothers Tbk yang berjumlah 22 pabrik sudah menggunakan listrik dari panel surya seperti pabrik di Boyolali, Jawa Tengah. “Ini membuat biaya listrik menjadi lebih rendah,” kata dia.
Untuk suku bunga bank yang mulai merangkak naik, kata Iswardeni, hal itu tidak menjadi masalah karena sumber pinjaman PBRX berasal dari luar negeri yang bunganya tidak setinggi dibanding suku bunga dalam negeri. “Income kita juga dalam dolar AS jadi kenaikan itu tidak masalah,” ujarnya.
Berdasarkan laporan keuangan PBRX pada 2021 membukukan total penjualan atau sales US$ 689,4 juta, naik dibandingkan US$ 684,9 juta pada 2020. Penjualan selama kuartal I 2022 mencapai US$ 127,2 juta.
Sementara itu, EBITDA PBRX pada 2021 turun menjadi US$ 56 juta, dibandingkan US$ 68,6 juta pada 2020. Sedangkan laba bersih perusahaan pada 2021 mencapai US$ 15,5 juta, turun dibandingkan 2020 sebesar US$ 19,4 juta.
