Jakarta, TopBusiness – HK prioritaskan Konstruksi Tol Pekanbaru – Padang Seksi Konstruksi Tol Pekanbaru Padang Seksi Pekanbaru Bangkinang Capai 83%, Seksi Bangkinang – Pangkalan 60%, dan Seksi Sicincin – Padang 45%.
Kehadiran Tol akan Percepat konektivitas dari Pekanbaru menuju Padang ±3 Jam Perjalanan Jalan Tol Akan Membuka Konektivitas Sumbar dan Riau serta Menghubungkan Dua Pelabuhan Laut .
Pembangunan Tol Menerapkan Teknologi Building Information Management (BIM) PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) terus melanjutkan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) termasuk proyek Tol Ruas Padang – Pekanbaru sepanjang 254,8 Km yang dibangun secara bertahap dengan tujuan untuk memperlancar konektivitas antar dua Provinsi yakni Riau dan Sumatra Barat. Pembangunan jalan tol ini ditugaskan kepada Hutama Karya selalu Pengembang Proyek dengan berkolaborasi bersama PT HK Infrastruktur (HKI) dan PT Wijaya Karya (Persero), Tbk (Wika) selaku kontraktor utama untuk seksi prioritas yang masuk dalam tahap I pembangunan. Dimana HKI bertanggung jawab untuk konstruksi di Seksi Pekanbaru – Bangkinang (40 km) dan Seksi Sicincin – Padang (36 km) sedangkan Wika bertanggung jawab di Seksi Bangkinang – Pangkalan (25km). Adapun estimasi nilai investasi pada proyek Tol Pekanbaru – Padang ini adalah Rp 80,41 Triliun dengan pembiayaan yang bersumber dari Penyertaan Modal Negara (PMN), ekuitas lainnya, dan pinjaman.
Direktur Operasi III Hutama Karya Koentjoro mengatakan bahwa hingga saat ini proses konstruksi di Jalan Tol Pekanbaru – Padang yang terbagi atas 6 seksi berjalan cukup baik terutama untuk 3 seksi prioritas.
“Untuk ruas Pekanbaru – Padang, saat ini kami fokus pada 3 seksi prioritas dengan progres konstruksi cukup signifikan yakni Seksi 6 Pekanbaru – Bangkinang yang sudah mencapai 83% dimana untuk Km 9 sd Km 40 sudah selesai 100% dan telah dilakukan Uji Laik Fungsi Jalan Tol oleh BPJT dan pihak terkait lainnya, Seksi 5 Bangkinang – Pangkalan dengan progress 60%, dan Seksi 1 Padang – Sicincin mencapai 45%. Sedangkan sisa ruas tol lainnya yakni Seksi 4 Pangkalan – Payakumbuh (58km), Seksi 3 Payakumbuh – Bukittinggi (34 km), dan Seksi 2 Bukittinggi – Sicincin (38km) masih dalam tahap perencanaan,” terang Koentjoro dalam keterangan resmi kepada Top Business.
Di samping proses konstruksi, pembebasan lahan juga berjalan cukup baik utamanya pada ruas tol Pekanbaru – Bangkinang. Meski demikian, Hutama Karya tidak memungkiri bahwa perusahaan kerap dihadapkan oleh kendala di lapangan dimana pembebasan lahan di wilayah Sumatra Barat masih menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan hingga saat ini.
“Di ruas tol Padang – Sicincin, dengan kendala lahan yang sempat dihadapi, perusahaan hanya dapat mengebut konstruksi tol sesuai dengan lahan yang telah dibebaskan. Namun seiring berjalannya waktu dan dukungan dari berbagai stakeholder setempat, kami dapat kembali on track dalam menyelesaikan target pembangunan. Kami mengapresiasi seluruh koordinasi yang baik antar pihak sehingga diharapkan pembangunan Tol Pekanbaru – Padang ini dapat berjalan lancar dan kembali berjalan sesuai target yang telah ditentukan,” terang Koentjoro.
Kehadiran Tol Pekanbaru – Padang nantinya akan membawa manfaat positif bagi perekonomian dan pariwisata kedua wilayah setempat. Tol ini pun nantinya akan memangkas waktu tempuh perjalanan dari Padang ke Pekanbaru dari 9 jam via jalan arteri menjadi kurang lebih 3 jam via jalan tol dengan kecepatan rerata 80 Km/jam. Tak hanya memangkas waktu perjalanan, jalan tol ini akan membuka konektivitas antar-wilayah dalam rangka memperlancar distribusi logistik. Selain itu juga, tol ini akan menghubungkan dua pelabuhan laut yang berada di Padang dan Dumai, Riau serta akan mengefisienkan mobilitas orang dan barang.
“Tol Pekanbaru – Padang direncanakan terdiri dari 8 Simpang Susun, 3 On/Off Ramp, dan 12 Gerbang Tol. Kami pastikan usaha maksimal untuk percepatan pembangunan tol ini baik dari sisi konstruksi, maupun pembebasan lahannya,” tutup Koentejoro, Direktur Operasi III Hutama Karya.
Terbaru, Hutama Karya telah mengajukan permohonan terkait pengalokasian Penyertaan Modal Negara (PMN) dalam RAPBN tahun anggaran 2023 sebesar Rp 30,56 Triliun untuk percepatan pembangunan ruas-ruas JTTS, antara lain akan digunakan untuk penyelesaian ruas Padang – Sicincin sebesar Rp5,339 miliar.
Daya Ungkit
Percepatan penyelesaian Tol Pekanbaru – Padang terus mendapatkan dukungan dari berbagai stakeholder hingga regulator. Salah satunya Anggota DPR RI asal Sumatra Barat Andre Rosiade yang berjanji akan mengawal dan fokus memastikan jalan tol Sumbar tuntas karena sangat dibutuhkan oleh masyarakat Sumbar sebagai solusi untuk memecah kemacetan di jalan arteri.
“Alhamdulillah, pembangunan Tol Padang – Sicincin akan kembali dimulai Agustus 2022 ini. Hal ini kami bisa pastikan usai bertemu dan rapat dengan manajemen HK. Semua sudah dipersiapkan, tinggal menunggu kelengkapan saja. Kami juga diminta untuk kembali mengingatkan Pemerintah Provinsi Sumbar untuk mempercepat penuntasan pembebasan lahan yang katanya masih 54 persen,” kata anggota Komisi VI DPR RI yang bermitra dengan Kementerian BUMN, Selasa (7/6/2022).
dalam rapat percepatan pembebasan lahan Jalan Tol Pemprov Sumbar yang digelar pada senin (6/6) lalu, Wakil Gubernur Sumatra Barat Audy Joinaldy menjamin bahwa segala permasalahan terkait tol sudah dibahas pada rapat tersebut dan Pemprov Sumbar berkomitmen untuk menyelesaikan proses pembebasan lahan di Seksi 1 Padang – Sicincin hingga Juli 2022 ini. “Insya Allah teman-teman BPN terus mendorong pembebasan tanah sesuai target. Soal ketersediaan dana, Direktur Lembaga Manajemen Aset Nasional (LMAN) menjamin ketersediaan anggaran ganti rugi,” ujar Audy Joinaldy.
Sementara itu Ketua Dewan Pimpinan Daerah Association of The Indonesian Tour and Travel Agencies (DPD Asita) Sumatra Barat Darmawi mengatakan bahwa nantinya kehadiran Tol Pekanbaru – Padang dapat meningkatkan pariwisata kedua daerah. “Jarak tempuh Riau dengan Sumbar cukup jauh. Namun kini dengan adanya pembangunan jalan tol Riau – Sumbar (Pekanbaru – Padang) waktu dapat dipangkas sehingga bisa saling menguntungkan bisnis pariwisata bagi dua daerah,” ujar Darmawi.
Jalan Tol Pekanbaru – Padang Seksi Pekanbaru – Bangkinang dikerjakan oleh HKI selaku anak usaha Hutama Karya yang bergerak di bidang konstruksi. Dalam pengerjaan seksi tol ini, HKI mengimplementasikan Building Information Modeling (BIM) guna mendukung konstruksi digital Indonesia dengan membuat terobosan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur.
Implementasi BIM di proyek Jalan Tol Pekanbaru-Bangkinang telah dilaksanakan dalam perencanaan main road, structure (overpass, underpass, jembatan, box traffic, box drain), simulasi scheduling hingga perhitungan cost estimating. Sementara, implementasi BIM di lapangan untuk beberapa pekerjaan sudah menggunakan gambar kerja yang merupakan output dari BIM, dibandingkan sebelumnya yang masih menggunakan gambar manual. Sementara dari sisi dokumen kerja, dengan menggunakan BIM dan platform CDE (Common Data Environment), proses approval dokumen dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. BIM ini juga sudah dapat digunakan sebagai pembanding antara perencanaan dengan realisasi di lapangan baik dari segi volume pekerjaan, biaya, maupun penjadwalannya.
Dengan adanya BIM, proses konstruksi bisa menjadi lebih efektif. Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh sejumlah orang dalam waktu tertentu bisa dikerjakan menggunakan sistem BIM dalam waktu yang relatif lebih singkat. Salah satu contoh yakni pada proses pembuatan gambar kerja struktur jembatan, perhitungan volume beton dan tulangan, tahapan pekerjaan, dan perhitungan volume. Dengan menggunakan BIM, pekerjaan highway dengan panjang penanganan 5 km yang dikerjakan oleh 1 orang dapat diselesaikan 15 hari, mulai dari gambar kerja sampai dengan perhitungan volume. Sedangkan, untuk pekerjaan struktur jembatan dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih 10 hari. “Salah satu manfaat lainnya terdapat pada perhitungan volume yang jauh lebih teliti dan akurat karena sistem tersebut mampu membaca suatu bentuk secara detail sesuai dengan model rencana. Sehingga, implementasi BIM dalam membangun jalan tol akan memangkas waktu pekerjaan dan juga biaya,” ujar Direktur Operasi III HKI Selo Tjahjono.
Building Information Modeling (BIM) sendiri merupakan representasi rencana bangunan aktual yang dituangkan secara digital berbentuk tiga dimensi dan animasi yang dapat dilihat menggunakan Virtual Reality (VR). Di dalam model 3D ini, terkandung semua informasi yang digunakan sebagai landasan untuk stakeholder melakukan decision making dalam setiap tahapan konstruksi.
Hingga saat ini, Hutama Karya telah membangun Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sepanjang ±1.066 Km dengan 519 Km ruas tol konstruksi dan 547 Km ruas tol Operasi. Adapun ruas yang telah beroperasi secara penuh diantaranya yakni Tol Bakauheni – Terbanggi Besar (140 Km), Tol Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung (189 Km), Tol Palembang – Indralaya (22 Km), Tol Medan Binjai (17 Km), Tol Pekanbaru – Dumai (131 Km), Tol Sigli Banda Aceh seksi 2, 3 dan 4 (Seulimeum – Jantho – Indrapuri – Blang Bintang) sepanjang 36 km, serta Tol Binjai – Langsa seksi 1 Binjai – Stabat sepanjang 11,8 Km.
