TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Kejar Investor untuk Kejar 1 juta barel 2030

Albarsyah
21 July 2022 | 11:25
rubrik: Business Info
Kejar Investor untuk Kejar 1 juta barel 2030

Jakarta, TopBusiness – Potensi hidrokarbon di Indonesia masih sangat besar, masih ada 68 basin yang belum tereksplorasi dengan utuh. Hidrokarbon atau MIGAS masih menjadi sumber energi di dunia hingga tahun 2050 dan masih ketergantungan akan energi ini.

Di tengah ancaman resesi global investasi industri hulu migas terancam mandeg. Karena berbagai faktor, seperti pandemi dan keengganan pihak perbankan untuk mengucurkan dana pinjaman pada proyek minyak dan gas bumi (migas), investasinya tersendat. 

Hal itu menjadi salah satu poin penting diungkapkan oleh Plt. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Mohammad dalam acara sharing session yang diselenggarakan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pada Selasa (19/7/2022) di BSD City Tangerang Selatan.

Menurut Mohammad Kemal  dewasa ini investasi industri sektor migas masih stagnan. Faktor penyebabnya beragam. “Mulai dari Covid-19 hingga tidak semua perbankan meminjamkan dananya untuk proyek migas. Padahal kebutuhan akan minyak terus meningkat hingga tahun 2050,” katanya.

Berdasarkan sata SKK Migas, konsumsi minyak naik 139 persen. Sedang konsumsi gas juga naik 298 persen.

Kemudian, dalam pertemuan dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), diketahui bahwa investor belum mau menaikkan kapasitas produksi di tengah fluktuasi harga komoditas migas. Mohammad Kemal juga menguraikan tentang potensi migas. “Ada 68 basin belum tereksplorasi dengan utuh,” katanya.

Sementara itu, tenaga Ahli Kepala SKK Migas Luky Agung Yusgiantoro mengungkapkan industri migas tengah mengalami fenomena supercycle, yang memicu kenaikan harga komoditas berlangsung lebih lama akibat krisis.

“Ada potensi resesi dan inflasi yang berdampak pada kegiatan industri hulu migas. Padahal peran migas di Indonesia masih tinggi dan negara-negara lain, bersiap menghadapi resesi dan inflasi,” kata Luky.

BACA JUGA:   Pertumbuhan PDB Sejumlah Pulau di Atas Rata-rata

Dia memprediksikan, potensi ke depan, harga minyak akan merangkak naik. Walaupun demikian, putra dari mantan Menteri ESDM Poernomo Yusgiantoro tidak mengingkari ada juga memperkirakan harga minyak akan turun.

Saat ditanyakan bagaimana strategi untuk mendongkrak investasi, Luky mengungkapkan SKK Migas terus mengupayakan untuk terus mengundang investasi dengan cara memperbaiki kebijakan insentif. Selain itu melakukan roadshow ke beberapa negara.

Dia menambahkan, kinerja ekonomi domestik diyakini masih kuat dan terjaga. Hal ini didukung potensi sumber daya alam yang melimpah, salah satunya dari sektor migas.

Hingga Juni 2022, penerimaan negara dari hulu migas mencapai US$9,7 miliar atau sekitar Rp140 triliun. ”Kita beruntung Indonesia itu masih kaya dengan sumber daya alam. Kita masih ada oil and gas yang melimpah. Kita melakukan strategi yang menarik investor masuk ke dalam negeri, untuk mencapai 1 juta barel minyak per hari,” ujarnya.

Untuk mengejar target 1 juta barel minyak per hari dan gas sebesar 12 miliar kaki kubik per hari pada 2030, SKK Migas membutuhkan investasi hingga US$26 miliar atau sekitar Rp389 triliun. Jemput bola investasi pun akan digencarkan dengan roadshow ke perusahaan migas di luar negeri.

Luky menekankan bahwa selain The Seven Sisters atau perusahaan minyak terkemuka yang terdiri dari Exxon, Royal Ducth/Shell, British Petroleum (BP), Mobil, Chevron, Gulf Oil dan Texaco, pihaknya turut mengincar investasi ke perusahaan migas nasional (NOC) lainnya.

“Dulu dikuasai Seven Sisters, sekarang 70% resources and research minyak dunia dikuasai nasional oil company (NOC). Ada tujuh NOC, seperti Rosneft dari Rusia,” jelasnya.

“Kita harus dengan gencar melakukan road show di dalam negeri hingga ke luar negeri untuk mengejar bola agar bisa meyakinkan para investor untuk melakukan investasi di hulu migas ini masih sangat menjanjikan. Karena Indonesia memiliki potensi dan cadangan Hidrokarbon yang sangat menjanjikan sekali. Tentunya ini diperlukan sinergi seluruh stake holder agar investasi hulu migas ini masih menjadi pilihan terbesar para investor ditengah gencarnya investasi EBT.

Previous Post

Kuartal II 2022, Kredit Bank Jago Tumbuh 234 Persen

Next Post

Hutama Karya Lakukan Pemeliharaan dan Peningkatan Kualitas JTTS

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR