Jakarta, TopBusiness—Menanggapi kondisi yang dipaparkan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) tentang kemungkinan krisis pangan di dunia, Wakil Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bidang Agraria, Ketahanan Pangan dan Inovasi Budidaya, Ir. Doddy Imron Cholid, mengatakan bahwa pada prinsipnya HKTI setuju dan mendukung agar petani betul-betul diberdayakan.
“Yang jadi masalah saat ini ketika panen berlimpah atau over produksi maka harga pangan atau kebutuhan sembako menjadi murah. Di lain pihak di luar musim panen harga bahan pangan menjadi meningkat. Ini harus diatur. Fluktuasi harga baik saat panen dan pada saat paceklik harus sama,” ujar Doddy Imron Cholid dalam pesan WhatsApp ke wartawan, pagi ini.
Bagaimana supaya kita tidak mengimpor bahan pangan? Seharusnya, menurut Doddy, pemerintah daerah kabupaten dan kota dalam hal ini Bulog harus siap membeli semua bahan pangan yang dihasilkan pada puncak panen dan disimpan di gudang. Yang jadi masalah kalau pangan hortikultura seperti tomat, cabe, kacang, dan lain-lain, yang mudah busuk.
“Maka selain gudang harus disiapkan cold storage. Semua pangan buah-buahan yang mudah busuk disimpan di sana, sehingga pada pemerintah tidak perlu impor dan tinggal membuka simpanan yang ada di gudang,” jelas Doddy.
Ketua Satgas Agraria HKTI ini menjelaskan, kalau pun produksi panen tidak mencukupi karena jumlah penduduk yang besar sekitar 230 juta orang, maka kalau pun harus impor janganlah mengimpor di musim panen.
“Kalau harus impor maka disimpan di gudang saja. Jangan dilepas ke pasar, kalau dilepas ke pasar akan bersaing dengan produk pangan petani. Jadi dalam musim apa pun jangan sampai petani yang disengsarakan,” tegas Doddy.
Lebih jauh soal urgensi impor pangan, Doddy menjelaskan bahwa, “HKTI sangat paham dengan kemiskinan yang ada di petani. Terkait dengan impor boleh-boleh saja tetapi jangan sampai menurunkan harga pangan petani, jangan sampai mengimpor di musim panen, kalau pun harus impor disimpan saja di gudang Bulog, ketika persediaan pangan di Bulog berkurang, baru hasil impor dijual ke pasar.”
Lanjut Doddy, HKTI prihatin masih banyak masalah di petani khususnya petani padi, misalnya masalah pupuk yang susah didapat dan kalau pun ada harganya mahal, masalah bibit unggul juga susah didapat, juga masalah iklim yang berubah-ubah. Ini juga mengakibatkan produksi petani menurun.
“Terkait masalah krisis pangan yang disampaikan Presiden Jokowi, kita berharap masalah ini tidak berkepanjangan dan kita harus menjaga produksi petani agar hasil panen tetap melimpah dan ketika dijual harganya tetap mahal,” tandasnya.
