Jakarta, TopBusiness – Kinerja apik di paruh pertama tahun ini yang diraih PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (IDX: CMRY) sepertinya bakal berlanjut hingga akhir tahun dan bahkan tahun depan. Kondisi ini tak lepas dari adanya penurunan harga bahan baku susu yang mulai menurun yang selama ini menjadi beban perusahaan.
Demikian seperti disebutkan Bharat Joshi, CFO PT Cisarua Mountain Dairy (CMRY) di sela-sela acara EMITEN Talk, “Pandemi Beranjak, Mobilitas Menanjak, dan Emiten-Emiten Kian Melonjak”, di Monsieur Spoon Pacific Place SCBD, Jakarta, dikutip Jumat (12/8/2022).
“Tahun lalu harga raw material susu naik, akan tetapi kami di direksi tetap tidak menaikkan harga agar konsumsi susu bisa naik. Dan saat ini sudah mulai ada tanda-tanda penurunan harga raw material. Ini tentu positif bagi kami,” terang dia kepada wartawan.
Dengan kondisi itu, dia pun yakin jika kinerja penjualan dan laba bersih hingga akhir tahun bias terkerek double digit dari tahun lalu. Dan di tahun depan bisa naik lebih tinggi lagi. Namun Bharat sendiri enggan untuk menyebut angka pastinya.
“Jadi, efek penurunan bahan baku ini baru akan kelihatan atau berdampak pada kinerja perseroan tahun depan,” tuturnya.
Tidak dipungkiri, sejak pandemi menurun, pelonggaran, dan pembukaan pusat belanja tingkat konsumsi makanan, susu, dan yogurt mulai naik. Tingkat inflasi dalam negeri terjaga di kisaran 4,5 persen. Namun, perlu diwaspadai ekonomi global tengah resesi. “Kita bersyukur indonesia masih aman di tengah pasar global yang masih bergejolak. Tetapi untuk ke depan bagaimana?” ucap Joshi dengan nada tanya.
Sepanjang tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal Rp1 triliun. Dan, pada semester I-2022 sudah terserap 50 persen. Sisanya akan digunakan untuk susu, yogurt, dan consumer good. Dengan penurunan harga bahan baku ini bakal memberi keyakinan kinerja akan positif.
Fokus perseroan mengembangkan yogurt, susu, consumer good, sosis, chicken nugget, di bawah merek Kanzler, chicken nugget buble crumb dengan lebih banyak menyasar pasar domestik. “Tahun depan kami launching lima produk baru chicken nugget. Dengan maret kita lebih banyak ke domestic,” dia menegaskan.
Konsumsi susu sendiri di Indonesia masih rendah ketimbang negara-negara lain di ASEAN. Mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS), untuk tahun 2020, jumlah konsumsi susu di masyarakat masih di angka 16,27 kg per kapita per tahun. Sementara Malaysia sebesar 36,20 kg per kapita per tahun dan Singapura lebih tinggi di angka 50 kg per kapita per tahun.
Lantas, untuk kondisi saat ini apakah tingkat konsumsi akan naik atau turun? Perseroan masih terus mengamati perkembangan di lapangan. Pasalnya, di tengah kondisi global yang masih bergejolak plus harga bahan baku yang sempat naik tinggi, namun pihaknya tetap tidak menaikkan harga agar tingkat konsumsi susu meningkat.
FOTO: Istimewa
