Jakarta, TopBusiness – Siam Cement Group (SCG) masih menunjukkan perfroma apik di tengah krisis global yang masih berlangsung. Mulai dari adanya inflasi yang tinggi, kenaikan suku bunga, peningkatan harga bahan baku dan energy, serta perubahan iklim dunia.
Di tengah tantangan tersebut, produsen semen asal Thailand itu pun banyak melakukan inovasi produk. Sehingga membuat perusahaan tetap mampu bersaing di sector semen yang memang sangat ketat ini. Tercatat, tren bisnis perusahaan ini masih terus meningkat positif, mengingat potensi pasar Indonesia sendiri sangat besar.
Dilihat dari kinejanya, hingga akhir paruh pertama 2022 ini, SCG Indonesia menorehkan pendapatan penjualan sebesar Rp5,63 triliun atau setara dengan US$ 387 juta. Angka ini meningkat 4% secara year on year (yoy). Lonjakan ini lantaran didominasi dari lini bisnis SCGP (FajarPaper and Intan Group). Adapun untuk total aset SCG di Indonesia mencapai Rp 51,46 triliun (US$ 3,46 miliar), meningkat 14% yoy terutama ditopang dari bisnis kemasan (packaging) dan bahan kimia (chemicals).
Adapun secara total kinerja SCG sendiri, hingga kuartal II-2022 itu mencatatka pendapatan sebesar Rp63,56 triliun (US$ 4,43 miliar), stabil secara q-o-q (quartal on quartal) dan meningkat 14% secara y-o-y berkat peningkatan penjualan di seluruh lini bisnis dan kenaikan harga produk di pasaran.
Dengan raihan laba mencapai Rp4,14 triliun (US$ 289 juta), turun 42% y-o-y akibat kenaikan harga minyak dunia dan penurunan pendapatan ekuitas pada lini bisnis bahan kimia (chemicals).
“Namun, secara q-o-q laba meningkat 12% berkat pendapatan dividen dari bisnis investasi. Sementara itu, pendapatan dari penjualan paruh pertama tahun 2022 mencapai Rp130,54 triliun (US$ 9,04 miliar), tumbuh 19% secara y-o-y,” tutur Chakkapong Yingwattanataworn President Director SCG Indonesia, kepada wartawan, di Jakarta, Jumat (12/8/2022).
Menurutnya, saat ini SCG terus beradaptasi untuk memperkuat posisi bisnis dan kinerja keuangan di tengah krisis global akibat inflasi, kenaikan suku bunga, peningkatan harga bahan baku dan energi, serta perubahan iklim dunia tersebut.
“Inovasi produk dan layanan terus dilakukan, khususnya produk ramah lingkungan dengan label SCG Green Choice, memenuhi keamanan dan kenyamanan pelanggan, dan memenuhi kebutuhan sektor pariwisata seiring batas negara yang mulai dibuka,” jelasnya.
Apalagi memang di tengah lonjakan harga komoditas, terutama batubara telah menajdi beban bagi industry semen, termasuk SCG. Namun begitu, hal itu coba diantisipasi melalui inisiatif penggunaan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) pada pabrik semen di Sukabumi. Teknologi ini memungkinkan perusahaan untuk menghasilkan energi dari limbah.
“Sekarang dampaknya masih kecil, tapi di tahun-tahun mendatang porsi penggunaan energi alternatif akan terus SCG tingkatkan,” ungkap dia.
Untuk diketahui, perusahaan sendiri menargetkan mencapai netral (net zero) emisi karbon pada tahun 2050 di seluruh area operasionalnya, baik Indonesia maupun di negara-negara ASEAN lainnya. Adapun untuk lini bisnis petrokimia, SCG Indonesia memastikan terus mendukung langkah Chandra Asri Petrochemicals yang sedang melaksanakan pembangunan kompleks Chandra Asri Perkasa (CAP) 2.
Sekadar informasi, SCG sendiri memulai operasi di Indonesia sejak 1992 silam dengan bisnis perdagangan dan secara bertahap mengembangkan investasinya dalam bisnis yang berbeda pada industry cement-building materials, chemicals, dan packaging. Hingga saat ini, memiliki total 36 perusahaan di seluruh Indonesia dan memiliki lebih dari 9.000 karyawan.
Produk yang ditawarkan adalah produk infrastruktur di bawah merek ‘SCG’ termasuk semen SCG, beton siap pakai Jayamix SCG, beton ringan SCG smartblock, SCG pipe and precast, dinding keramik, lanta, dan keramik atap di bawah merek ‘KIA’, PVC resin, corrugated containers, kemasan offset printing, dan banyak lagi.
Chakkapong melanjutkan, secara keseluruhan bisnis SCG di Tanah Air masih dalam arah yang positif. Pertumbuhan yang pesat dari lini bisnis packaging tak lepas dari permintaan terhadap produk-produk kemasan yang melonjak seiring maraknya aktivitas belanja online di masa pandemi Covid-19.
Meski pandemi telah mereda, kebiasaan masyarakat untuk berbelanja online masih terus berlanjut. Di luar itu, SCG Indonesia juga menilai bisnis semen yang dijalaninya tetap memiliki prospek menjanjikan.
Saat ini, SCG Indonesia memiliki pabrik semen yang beroperasi di Sukabumi, Jawa Barat dengan kapasitas 1,8 juta ton per tahun. Memang, dia sendiri mengakui, bila dibandingkan dengan pemain lain di sektor industri semen, SCG Indonesia belum menjadi pemain besar dengan market share yang masih kecil.
“Akan tetapi, ini yang membuat kami memandang masih banyak potensi di pasar Indonesia yang dapat digali lebih lanjut lagi. Terbukti saat ini kami bisa mencatatkan pertumbuhan yang kuat dan prospek keuangan yang positif di tengah lonjakan biaya energy yang berdampak pada perolehan laba perusahaan,” pungkas dia.
FOTO: TopBusiness
