Jakarta, TopBusiness – Kinerja PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) selama paruh pertama 2022 masih positif dengan mencatatkan pertumbuhan. Hal ini memang tak lepas dari potensi industry telekemunikasi yang masih moncer belakangan ini. Sehingga TOWR yang memiliki ribuan menara dan jaringan fiber optic tersebut bisa memanfaatkan potensi itu.
“Kami percaya potensi industri telekomunikasi Indonesia masih sangat menarik, dan dengan berpegang pada salah satu core value SMN, yaitu Know Your Customer, kami akan terus beradaptasi untuk dapat memahami dan memenuhi kebutuhan operator,” ungkap Wakil Presiden Direktur TOWR, Adam Gifari dalam Public Expose LIVE 2022, Selasa (13/9/2022).
Sejauh ini, kat dia, TOWR sudah siap memenuhi kebutuhan infrastruktur industri telekomunikasi di Indonesia melalui pembangunan menara dan jaringan fiber optik. Apalagi perseroan yang merupakan bagian dari Djarum Group itu mengaku siap dengan jaringan infrsatruktur di telekomunkasi itu.
TOWR atau SMN Group sendiri terdiri dari Protelindo, iForte dan STP. Kata dia, pihaknya siap untuk memenuhi dan mendukung kebutuhan infrastruktur industri telekomunikasi di Indonesia yang terus berkembang melalui pembangunan tower dan jaringan fiber optik untuk meningkatkan kualitas jaringan 4G nasional di Indonesia.
Kondisi itu pun berdampak positif terhadap kinerja keuangan perseroan. Tercatat, dalam semester I-2022, TOWR memiliki lebih dari 29.200 tower dengan lebih dari 54.700 tenant, lebih dari 109.000 km sambungan fiber optik yang menghasilkan penghasilan, dan lebih dari 13.300 aktivasi konektivitas.
Penghasilan usaha selama semester I 2022 mencapai Rp5,3 triliun, meningkat 33,9 persen dari Rp3,97 triliun pada tahun sebelumnya.
EBITDA perseroan mencapai Rp4,57 triliun, meningkat 34,1 persen dari Rp3,4 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara laba bersih perseroan mencapai Rp1,69 triliun, meningkat 0,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Dari masing-masing segmen bisnis ini menunjukkan pertumbuhan yang baik. Seperti penghasilan dari segmen menara pada paruh pertama 2022 mencapai Rp4,28 triliun atau tumbuh 30,7 persen dari tahun sebelumnya,” jelas Adam.
Adapun penghasilan dari segmen menara fiber mencapai Rp479,6 miliar atau tumbuh 83,5 persen, sedangkan penghasilan dari segmen konektivitas mencapai Rp555,3 miliar atau tumbuh 27,9 persen.
Pencapaian tersebut berasal dari pertumbuhan bisnis secara organik maupun in-organik. Pertumbuhan organik didukung oleh perkembangan industri telekomunikasi dimana para operator membutuhkan semakin banyak menara dan jaringan fiber optik untuk meningkatkan kualitas pelayanan mereka. Sementara itu, pertumbuhan in-organik berasal dari transaksi akuisisi menara pada awal tahun ini.
Dirinya optimisitis kinerja perusahaan bakal membaik mengingat tren kebutuhan infrastruktur diperkirakan akan terus meningkat. “Seperti yang terlihat dari tingginya pertumbuhan jaringan fiber optik dan bisnis connectivity di tahun ini yang seluruhnya berasal dari pertumbuhan organik,” pungkas dia.
FOTO: Istimewa
