Jakarta, TopBusiness—Tak banyak yang mengetahui bahwa 99% produksi kakao Indonesia masih bergantung pada petani-petani lokal yang mengelola perkebunan rakyat. Dengan kontribusi yang dihasilkan, nyatanya para petani kakao hingga saat ini harus menghadapi berbagai tantangan di industri, seperti belum memiliki badan hukum yang jelas ataupun peralatan bertani yang memadai, serta rendahnya pengetahuan tentang teknik bertani yang baik.
“Selain itu, Indonesia masih mengandalkan ekspor produk mentah sehingga komoditas tersebut tidak memiliki nilai tambah dan minim dalam menyerap lapangan kerja,” kata Founder and CEO Krakakoa, Sabrina Moestopo, pagi ini dalam keterangan tertulis yang diterima Majalah TopBusiness.
Ia mengatakan bahwa terlepas dari hal tersebut, pihaknya pun bersyukur bahwa industri kakao kini mendapatkan perhatian dari masyarakat, pemerintah, dan uluran tangan dari berbagai pihak.
“Sebagai wirausaha sosial yang fokus pada perkembangan industri cokelat dan kesejahteraan para petani, Krakakoa melakukan kolaborasi dengan Bank DBS Indonesia yang memiliki kesamaan visi untuk membangun dampak positif kepada industri pangan.”
Aksi nyata Krakakoa bersama dengan Bank DBS Indonesia melalui rekening Green Savings bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk berkontribusi dalam memperbaiki kualitas dan kuantitas industri cokelat, membangun kesejahteraan para petani, serta menjaga keseimbangan ekosistem perkebunan kakao di Indonesia.
Hadir untuk petani kakao sejak 2013, Krakakoa senantiasa berkomitmen untuk memberikan dampak positif kepada sistem produksi yang memengaruhi manusia dan bumi, dimulai dari kakao. “Krakakoa menghadirkan solusi atas tantangan sosial dan lingkungan yang dialami industri kakao,” kata Sabrina.
