Jakarta, TopBusiness – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mencatatkan pemulihan kinerja di kuartal III dari kuartal sebelumnya. Hal ini terlihat, perusahaan mencatatkan peningkatan penjualan sebesar 37% dan kenaikan laba bersih sebesar 83% pada kuartal III dibandingkan dengan kuartal kedua 2022.
“Kami mencatatkan pemulihan kinerja pada kuartal ketiga dibandingkan kuartal kedua seperti yang kami harapkan,” kata Leonard, Direktur Perusahaan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (26/10/2022).
Kendati secara kuartalan mengalami peningkatan, namun secara year on year (yoy) hingga kuartal III-2022, kinerja SIDO justru mengalami penurunan.
Untuk diketahui, laporan keuangan perseroan hingga kuartal III-2022, SIDO berhasil mengantongi penjualan sebesar Rp2,61 triliun per September 2022. Atau mengalami penurunan sebesar 5,85% dibandingkan raihan penjualan di kuartal III-2021 lalu yang sebesar Rp2,77 triliun.
Adapun untuk laba bersih sendiri, sampai akhir September itu, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih SIDO sebesar Rp720,44 miliar atau turun 16,75% secara tahunan (yoy).
“Jadi, terhadap kinerja kumulatif dalam sembilan bulan pertama itu. Tercatat, SIDO masih mengalami penurunan kinerja penjualan sebesar 6% dan laba bersih turun sebesar 17% yang terutama disebabkan oleh normalisasi permintaan produk-produk kesehatan konsumen dari basis yang tinggi pada kuartal ketiga tahun 2021 karena adanya varian delta Covid-19,” terang dia.
“Namun dengan melihat peningkatan kinerja pada kuartal ketiga dibandingkan dengan kuartal kedua, kami optimistis permintaan akan produk kesehatan terutama herbal masih terus bertumbuh,” lanjut dia yakin.
Sementara dalam perspektif jangka panjang, lanjut dia, kinerja SIDO pun masih mencerminkan perusahaan yang sangat solid dengan CAGR antara tahun 2019 sampai 2021 sebesar dua digit, yaitu 14% pada penjualan dan 25% pada laba bersih.
Selain itu, peseroan juga masih mencatatkan posisi keuangan yang solid dan sehat dengan kas netto sebesar Rp858 miliar dan tidak memiliki pinjaman keuangan, sehingga tidak ada paparan atas risiko kenaikan tingkat suku bunga ke depannya.
Adapun untuk total asset bertumbuh 6% menjadi sebesar Rp3,88 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2022 dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3,65 triliun.
