Jakarta, TopBusiness – PT Global Digital Niaga Tbk (IDX: BELI) atau Blibli baru saja melakukan pencatatan saham perdananya (listing) di PT Bursa Efek Indonesia. Melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering, BELI menjadi emiten ke-47 di tahun ini.
Dalam aksi korporasi ini, Blibli yang merupakan pelopor ekosistem perdagangan dan gaya hidup omnichannel di Indonesia yang berfokus pada konsumen dan institusi yang terhubung secara digital di seluruh Indonesia ini, telah menawarkan 100% saham baru (primary shares) kepada investor domestik dan qualified institutional buyer internasional melalui distribusi Reg S / 144A.
Dalam IPO tersebut, Perseroan berhasil mencatatkan Harga Perdana mendekati batas atas rentang harga penawaran pada Rp450 per saham. Jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO Blibli berhasil dimaksimalkan sepenuhnya hingga mencapai batas atas sebanyak 15,00% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO, sehingga dapat menggalang dana IPO gross sekitar Rp7,99 triliun (US$513 juta).
Usai mengantongi dana segar tersebut, Blibli diencanakan akan menggunakan dana hasil IPO itu untuk pelunasan utang serta untuk modal kerja. Dengan pelunasan utang itu, Blibli yakin kinerja ke depan akan lebi efisien.
“Memang tercantum di prospektus IPO, dana hasil IPO akan dilakukan untuk pembiayaan utang. Utang ini fasilitas pembiayaan yang ada sebelumnya. Pada saat melakukan perjanjian kredit, pendanaan ini harus dibayar. Kami sendiri ada pendaan dari dua bank yakni BTPN dan BCA masing-masing Rp2,75 triliun. Dengan pendanaan tersebut sebetulnya ada kepercayaan tersebut kepada business model kami. Ini sebuah sinyal ada kepercayaan lain dari business model ini,” kata CFO & Co-founder Blibli, Hendry di Jakarta, Selasa (8/11/2022).
Memang berdasar prospectus, BELI akan melunasi utang kepada BCA sebesar Rp 2,75 triliun dan ke BTPN senilai Rp 2,75 triliun dari dana IPO ini. Sementara itu, sisa dana IPO akan digunakan Blibli dan entitas anak sebagai modal kerja untuk mendukung kegiatan usaha utama dan pengembangan usaha perseroan. Rinciannya, sekitar 57 persen digunakan oleh Blibli dan 43 persen akan digunakan untuk PT Global Tiket Network (GTNe).
Hendry menegaskan, Blibli sendiri sudah melakukan strategi efisiensi ini sejak tiga tahun terakhir dan strategi itu akan terus dilakukan. “Strategi efisiensi sudah kami dijalankan dari awal dan secara berkesinambungan, baik dengan Blibli, Tiket dan Ranch. Karena itu, kita percaya bahwa kita solid untuk menghadapi ketidakpastian yang dirasakan di global,” imbuh Hendry.
Dan ternyata, lanjut dia, strategi efisiensi yang berjalan telah menunjukan dampak yang posiutif bagi kinerja Blibli di semester I-2022 lalu. “Kami mencatatkan pertumbuhan penjualan dalam ekosistem kami hingga 90% dan monetisasi kami meningkat. Saat ini dari penjualan menjadi pendapatan sekitar 30%. Di satu sisi kami juga bisa efisiensi terhadap EBITDA, improve sebesar 100 bps,” terang dia.
Blibli sendiri menjadi perusahaan ke-47 yang tercatat melantai di bursa saham pada 2022. Dalam IPO hari ini, manajemen Blibli menyebutkan saham BELI mendapat minat yang solid dari investor domestik maupun internasional dari berbagai institusi keuangan.
Minat yang tinggi ini terlihat dari pemesanan saham yang mengalami oversubscribed 4,4 kali saat pooling sehingga terjadi pooling penjatahan meningkat dari 2,5 persen menjadi 5,0 persen dari saham yang ditawarkan. Dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp53,3 triliun, BELI menjadi salah satu unicorn di sektor Internet yang menjadi perusahaan tercatat di Asia Pasifik sejak Mei 2022.
