Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan atau IHSG di PT Bursa Efek Indonesia hingga penutupan perdagangan hari ini berpotensi bergerak ke samping.
Daily Research Report oleh Samuel Research Team menyatakan bahwa IHSG Berpotensi Bergerak Ke Samping.
Bursa AS semalam ditutup melemah. DJIA -0,02%, S&P500 0,31%, dan Nasdaq 0,35%. Imbal hasil obligasi melonjak dengan Fed memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga untuk melawan inflasi mungkin masih akan berlanjut.
Dari komoditas pasar, CPO turun 4,44%, nikel 5,09%, emas 0,81%, dan sebaliknya batu bara naik 0,62%. Sementara itu, harga Brent terpantau melemah 4,71% ke level USD81.64/bbl.
Pada akhir perdagangan kemarin, IHSG ditutup naik 0,44% ke level 7.045. Penggerak terkemuka teratas menerbitkan BBRI, BYAN, BBCA, sementara penggerak tertinggal teratas menerbitkan GOTO, BMRI, ARTO. Investor asing hari ini mencatatkan keseluruhan net sell sebesar IDR 161.1 miliar. Di pasar reguler, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 179,1 miliar, dan pada negosiasi pasar tercatat net buy asing Rp 18 miliar. Net buy asing tertinggi di pasar reguler dicatatkan oleh BBRI (Rp 404 miliar), BBCA (Rp 114,4 miliar), dan ITMG (Rp 44 miliar). Net sell asing tertinggi di pasar reguler dicetak oleh BMRI (Rp 296 miliar), TLKM (Rp 116,4 miliar), dan PNLF (Rp 47,1 miliar).
Terdapat tambahan 2.520 kasus baru COVID-19 di hari Kamis (17/11) dengan positivity rate sebesar 9,14% (total kasus aktif: 60.471). Sebanyak 5.264 pasien telah sembuh dengan tingkat kesembuhan sebesar 96,7%.
Bursa Asia pagi ini terpantau dibuka menguat. Nikkei +0,12%, dan Kospi 0,25%. “Kami memperkirakan IHSG berpotensi bergerak mixed hari ini, seiring dengan sentimen pergerakan bursa global dan bursa regional,” demikian tertulis.
