TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Fujifilm Hadirkan Teknologi AI pada Industri Kesehatan

Busthomi
29 December 2022 | 17:59
rubrik: Business Info
Fujifilm Hadirkan Teknologi AI pada Industri Kesehatan

Ilustrasi: Pemeriksaan Mammography. FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – Fujifilm kembali merilis produk barunya. Kali ini, perusahaan asal Jepang itu memadukan kecanggihan teknologi di bidang pencitraan atau pembuatan film dengan produk teknologi yang dibutuhkan industry kesehatan.

Presiden Direktur Fujifilm Indonesia, Masato Yamamoto mengatakan, teknologi layanan pemeriksaan kesehatan yang berkualitas akan membantu memudahkan tugas tenaga kesehatan dalam mendiagnosa penyakit sehingga bisa mengambil keputusan yang tepat. “Harapan kami, setiap orang dapat menerima perawatan medis berkualitas tinggi,” tutur Masato Yamamoto, dalam keterangan yang diterima media, Kamis (29/12/2022).

Sejarah Fujifilm dalam dunia kesehatan sebetulnya telah merentang dalam kurun waktu yang panjang. Pada 1936, Fujifilm telah memulai penjualan film sinar-X. Para pemimpin korporasi ini sadar, teknologi pembuatan film atau pemrosesan gambarnya sangat canggih dan diburu banyak orang. Teknologi ini akan sangat bernilai jika dipadukan dengan layanan kesehatan yang setiap produk atau mesinnya sangat membutuhkan film.

Memanfaatkan keunggulan itu, perusahaan berhasil melebarkan sayap bisnis di bidang diagnostik melalui Pesawat Sinar X Radiologi Diagnostik, sistem ultrasound, endoskopi, system diagnostik in vitro, CT, MRI, hingga PACS. Saat ini Fujifilm memperluas layanan melalui pemanfaatan kecerdasan buatan atau teknologi AI pada produknya.

Menurut Yamamoto, korporasi melihat ke depannya informasi klinis akan semakin diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk itu, kebutuhan akan teknologi AI semakin tinggi dalam pengembangan produk yang memenuhi kebutuhan industri perawatan kesehatan yang terus berkembang, terutama di era pascapandemi.

Untuk mengembangkan teknologi AI di bidang medis, Fujifilm berkolaborasi mengembangkan penelitian bersama banyak pihak.

Pada April 2019, misalnya, Fujifilm melalui penelitian bersama Universitas Kyoto, mengumumkan berhasil mengembangkan teknologi yang menggunakan teknologi AI yang secara otomatis mampu mengategorikan dan mengukur lesi pneumonia interstisial pada tingkat presisi yang lebih tinggi.

BACA JUGA:   Kebijakan Biden Soal Keamanan Cyber Picu Kenaikan Harga Koin Kripto Shibu Inu

Dalam hal ini Fujifilm memulai studi penelitian dengan menerapkan teknologi AI untuk membantu diagnosis dan penilaian pengobatan pasien dengan pneumonia akibat Covid-19. Inisiatif Fujifilm yang lain juga mencakup pengembangan platform AI yang dapat digunakan di ruang gawat darurat, ruang operasi, termasuk selama pemeriksaan sinar-X umum.

Teknologi Mamografi

Layanan dan peralatan medis yang memadukan teknologi canggih saat ini sudah jadi portofolio utama dalam transformasi bisnis Fujifilm. Juli 2019 lalu, Fujifilm meluncurkan sistem perangkat lunak medis di Jepang. Platform ini mempelajari pengetahuan dokter berpengalaman mengenai diagnosa gambar menggunakan teknologi AI.

Dengan keahlian dan kecanggihan yang dimilikinya, Fujifilm juga mengembangkan seri Picture, Archiving and Communication System (PACS) sebuah sistem AI yang mampu mengelola dan menyimpan data gambar di rumah sakit di seluruh dunia.

Sejak diluncurkan pada 1999, setidaknya sistem AI ini telah digunakan pada 5.500 fasilitas kesehatan di seluruh dunia. Melalui pengalaman lebih dari 20 tahun, manajemen gambar dan teknologi pemrosesan sistem AI inilah yang akan digunakan dalam pengembangan teknologi AI Fujifilm ke depan.

Melalui sistem AI, Yamamoto mengatakan para ahli perseroan menganalisa data gambar berkualitas tinggi yang dimiliki Fujifilm sebagai bahan pembelajaran mendalam guna menghasilkan inovasi-inovasi lain yang terkait teknologi AI dan kesempurnaan pencitraan/gambar.

Ia juga menegaskan, salah satu yang menjadi perhatian Fujifilm di dunia kesehatan adalah bagaimana pasien bisa mendapatkan penanganan medis secara cepat, terutama dari hasil pembacaan diagnosis gambar x-ray, seperti hasil foto thorax atau mamografi. Salah satu alat canggih yang juga diproduksi Fujifilm adalah mamografi beresolusi tinggi.

Teknologi mamografi atau pemeriksaan sinar-X yang dikembangkan Fujifilm, merupakan salah satu tindak nyata dalam langkah Never Stop Innovating, sebuah kampanye yang kerap digaungkan oleh Fujifilm dalam berkarya.

BACA JUGA:   Wisma Danantara Diresmikan, Siap Kelola Aset US$ 1 Triliun

“Fujifilm terus mengembangkan teknologi mamografi untuk memantau kelainan sekecil apapun pada payudara. Kami juga menyediakan peralatan mamografi digital yang lembut pada pasien dengan radiasi rendah,” tuturnya.

Salah satu yang dapat diandalkan dari teknologi mamografi Fujifilm adalah Digital Mammography. Sistem teknologi peralatan medis yang hanya boleh dioperasikan oleh tenaga profesional ini menggunakan flat panel detector (FPD). Inovasi canggih ini mampu memproduksi gambar yang jelas lewat penggunaan sinar X-ray dengan dosis minim dan memberikan kecepatan hasil gambar berkualitas dalam waktu 15 detik saja.

Sistem ini menggunakan software AEC (i-AEC) yang dikombinasikan dengan teknologi untuk menganalisis gambar secara otomatis terhadap masing-masing jenis payudara.

Selain itu, teknologi mamografi Fujifilm juga memiliki QC Mamografi, teknologi yang berfungsi untuk mengelola data kontrol kualitas pada peralatan mamografi secara terpusat dan lebih cepat. Penggunaaan alat ini pun kira-kira hanya memerlukan waktu 10 menit di laboratorium Fujifilm.

Data kontrol ini akan semakin akurat dengan bantuan Fujifilm FCR, yang merupakan merupakan alat radiografi pertama yang mampu mendigitalkan gambar x-ray di dunia. Sistem itu dapat menghasilkan gambar x-ray resolusi tinggi dengan tingkat radiasi rendah.

Dengan adanya teknologi canggih ini, Yamamoto pun memastikan tingkat keamanan para pasien yang menggunakan teknologi AI Fujifilm. Yamamoto berkata, keunikan teknologi AI yang dimiliki Fujifilm mampu memadukan antara pendekatan human intelligence (HI) atau kecerdasan manusia dengan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Tags: artificial intelligencefujifilmsektor kesehatanteknologi AI
Previous Post

Casa Creativa Pro Hadirkan Solusi bagi Pelaku UMKM Fashion

Next Post

Resmikan Bendungan Beringin Sila, Presiden Jokowi: Bendungan Keempat dari Enam Bendungan di NTB

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR