Jakarta, TopBusiness—Sangat jarang dalam sejarah pasar keuangan ekuitas dan obligasi terkoreksi secara sangat tajam secara bersamaan, seperti terlihat pada 2022. Akan tetapi, dengan imbal hasil obligasi melonjak di atas 5% dan valuasi ekuitas kembali ke tingkat rata-rata, pergantian tahun kali ini menyajikan titik awal bagus bagi investor untuk kembali ke portofolio tradisional “60/40” (yang terdiri atas 60% ekuitas dan 40% obligasi).
Hal tersebut dipaparkan dalam riset terbaru DBS Group Research, yang diterima pagi ini oleh Majalah TopBusiness.
Dijelaskan bahwa saat memasuki 2023, pasar tenaga kerja kuat dan ketiadaan ketidakseimbangan sistemik di Amerika Serikat menandakan bahwa resesi, jika terjadi, akan ringan.
Sementara itu, data Indeks Harga Konsumen (IHK) dan pernyataan Bank Sentral AS menunjukkan pelonggaran pengetatan kebijakan, dengan pembalikan nilai imbal hasil untuk jangka waktu enam bulan hingga satu tahun.
Dengan dihadapkan pada dua tantangan, yaitu peningkatan risiko resesi dan inflasi bertahan tinggi, DBS Group Research mendukung obligasi ketimbang ekuitas. Hal itu mengingat kinerja obligasi secara historis lebih baik dalam keadaan inflasi tinggi/pertumbuhan rendah, dan adanya kesenjangan lebar antara hasil obligasi-ekuitas pada saat ini.
Dalam portofolio 60/40, DBS Group Research melihat kredit margin diskon dengan peringkat investasi (DM IG) menghasilkan pendapatan aman dan likuid, dan menaikkan peringkat obligasi korporasi margin diskon dengan peringkat investasi menjadi overweight (kinerja akan membaik) mengingat imbal hasil besar dan risiko dari kredit yang dikelola dengan baik.
Di ruang ekuitas, dampak dari perkiraan pendapatan melemah karena risiko resesi, kemungkinan diimbangi sebagian oleh ekspansi valuasi di tengah penurunan imbal hasil.
DBS Group Research mempertahankan pendiriannya untuk memilih Amerika Serikat ketimbang Eropa terkait ekuitas margin diskon, sembari mencari peluang dari pembukaan kembali Tiongkok.
“Kami terus mencari investasi alternatif seperti emas dan aset pribadi sebagai diversifikasi risiko portofolio dalam lingkungan investasi yang bergejolak”, demikian dipaparkan dalam laporan riset tersebut.
