Jakarta, TopBusiness—Sesudah harga baja bottoming di akhir Oktober 2022, harganya mulai naik sekitar 15% dalam dua bulan terakhir ini.
“Pelonggaran pembatasan pergerakan di China pada Desember 2022 membuat ekspektasi demand terhadap konsumsi baja meningkat,” kata Corporate Secretary PT Saranacentral Bajatama, Tbk., Handaja Susanto, dalam keterbukaan informasi untuk bursa saham hari ini.
China adalah orientasi industri baja, karena 60% produksi dunia berada di China. “Di kuartal ketiga 2022 pertumbuhan ekonomi di China sebesar 3,9%. Dan untuk tahun 2023 diestimasi di kisaran 5%, konteksnya adalah peningkatan pertumbuhan ekonomi di 2023 dibandingkan 2022,” kata dia.
Dia menjelaskan bahwa ditinjau dari sisi mikro, industri baja tetap memiliki prospek karena merupakan induk dari segala industri. Dalam hal itu, pemerintah mendukung industri baja nasional dari hulu ke hilir untuk meningkatkan pertumbuhan dan daya saing.
Di situ, ada kebijakan dikeluarkan Pemerintah berupa pengurangan harga gas, pemberlakuan SNI Wajib produk logam untuk membatasi masuknya baja impor.
“Produk lokal dengan TKDN 40% pun dapat masuk ke dalam daftar belanja pemerintah untuk pembangunan di pemerintah pusat, daerah, dan BUMN/BUMD,” kata dia.
