Jakarta, TopBusiness – Subholding Upstream Pertamina, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) US$ 5,7 miliar atau sekitar Rp 86,07 triliun (kurs Rp 15.100) di 2023. Belanja modal ini salah satunya digunakan untuk mengambil hak partisipasi atau participating interest (PI) 35% di Blok Masela, menggantikan Shell.
Direktur Utama PHE, Wiko Migantoro mengatakan, anggaran tersebut untuk aktivitas organik dan anorganik. “Investasi ini naik 44% dibanding realisasi 2022,” katanya dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII, Jakarta, Selasa (7/2/2023).
Adapun rincian anggaran belanja modal itu yakni Business Development (BD) dialokasikan sebesar US$ 3,15 miliar, investasi Non Business Development (NBD) US$ 1,06 miliar dan Merger dan Akuisisi (M&A) US$ 1,5 miliar.
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengkonfirmasi, anggaran tersebut salah satunya untuk Blok Masela. “Betul,” kata Nicke saat dikonfirmasi.
Namun demikian, Nicke tak bisa membeberkan secara rinci berapa anggaran untuk masuk ke Blok Masela tersebut. Sebab, Pertamina terikat perjanjian kerahasiaan atau Non Disclosure Agreement (NDA).
Pertamina Genjot Peningkatan Produksi, Investasi Jumbo Subholding Upstream Pertamina yakni PT Pertamina Hulu Energi (PHE) bakal masif dalam menggenjot kegiatan di sektor hulu migas. Hal tersebut dapat tercermin dari rencana perusahaan yang bakal mengalokasikan anggarannya hingga US$ 5,7 miliar atau Rp 86,40 triliun (asumsi kurs Rp 15.158 per US$) pada tahun ini.
Direktur Utama Pertamina Hulu Energi (PHE), Wiko Migantoro mengatakan bahwa alokasi anggaran untuk sektor hulu pada tahun 2023 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Secara persentase setidaknya mengalami kenaikan sebesar 44% dibandingkan realisasi investasi di tahun 2022.
“Pertamina anggarkan investasi US$ 5,7 miliar untuk aktivitas organik dan anorganik di mana angka investasi ini naik 44 persen dibandingkan tahun realisasi 2022,” ujar Wiko
Menurut Wiko alokasi anggaran pada tahun ini sebagian besar rencananya akan digunakan untuk kegiatan pengeboran sumur pengembangan, workover serta reparasi sumur yang berdampak langsung terhadap peningkatan produksi migas di sumur-sumur eksisting.
“Anggaran tersebut diperuntukkan untuk kegiatan pengeboran direncanakan tahun 2023 mencapai 943 sumur pengembangan atau naik 73 persen, 32 sumur eksplorasi 688 workover dan 30.159 WIWS,” ujarnya.
Sementara itu, untuk target produksi minyak dan gas bumi (migas) pada tahun 2023 dipatok sebesar 1,055 juta barel setara minyak per hari (boepd). Angka ini setidaknya mengalami peningkatan 5% dibandingkan capaian 2022 yang hanya 1,018 juta boepd.
“Pertamina kontribusi 68 persen dari produksi minyak nasional dan gas 33 persen dari gas nasional. Memasuki 2023, Pertamina mencanangkan target yang lebih optimis dibandingkan realisasi 2022 di mana angka produksi minyak ditargetkan mencapai 595 ribu barel oil per day dan gas 2624 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) atau bertumbuh sebesar 5 persen dibandingkan pencapaian 2022,” ujarnya.
